- Hitoshi Kuriyama (Jepang): Terinspirasi Gunung Tangkuban Parahu, ia menciptakan instalasi perunggu dengan teknik oksidasi air Kawah Domas.
- Kazutaka Shioi (Jepang): Syok budaya saat melihat kompleksitas tata kota dan sampah di Bandung, dituangkan dalam karya konseptual yang menggugah.
Baca Juga: Mau Subsidi Motor Listrik Rp7 Juta? Begini Cara Daftarnya di SISAPIRa 2025
Seniman Lokal Juga Tak Kalah Kritis
Seniman dalam negeri tak kalah lantang menyuarakan keresahannya:
- Budi Adi Nugroho: Mengangkat tema kapitalisme dan propaganda lewat karya yang terinspirasi dari reklame terbakar saat demo.
- Darmawan Natsir: Membawa visual yang kabur dan samar sebagai simbol dari ketidakpastian sosial-politik yang sedang terjadi.
Re-aksi: Panggung Internasional, Pembelajaran Nyata
Pameran ini lebih dari sekadar menampilkan karya indah. Ia menjadi laboratorium pembelajaran hidup bagi mahasiswa, sekaligus ruang diskusi publik tentang bagaimana seni dapat menjadi respons nyata terhadap situasi dunia.
Lewat “Re-aksi” dan Program CAIRR, FSRD ITB membuktikan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi ruang eksplorasi yang hidup, progresif, dan terbuka untuk dialog global.
Ketika Kampus Jadi Titik Temu Dunia
Program CAIRR dan pameran “Re-aksi” telah membuka ruang baru—bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga publik—untuk memahami bahwa seni tak sekadar estetika, tapi juga aksi dan refleksi atas realita.
Dan ITB, lewat FSRD-nya, menjadi salah satu dari sedikit kampus di Indonesia yang benar-benar membuka pintu lebar bagi percakapan seni global.***