TITIKTEMU.CO - Memasuki semester II tahun 2025, angin segar mulai berhembus di pasar saham Indonesia.
Lembaga keuangan global JP Morgan Indonesia menyampaikan bahwa prospek pasar semakin cerah, meski awal tahun masih diwarnai gejolak eksternal seperti tensi perdagangan global.
Menurut Henry Wibowo, Head of Research and Strategy JP Morgan Indonesia, faktor pendorongnya cukup kuat: belanja pemerintah yang naik, konsumsi domestik yang ikut terdorong, hingga tren penurunan suku bunga global. Semua itu menjadi kombinasi yang bisa membuat pertumbuhan ekonomi lebih solid.
Baca Juga: Tunjangan Rumah DPRD DKI Jakarta Capai Rp70,4 Juta per Bulan, Diatur Lewat Kepgub 415 Tahun2022
Valuasi Pasar Modal Masih Menarik
Satu hal yang cukup mengejutkan, valuasi pasar modal Indonesia ternyata masih tergolong murah dibanding negara tetangga di Asia Pasifik.
Rasio price to earnings (PER) IHSG saat ini berada di kisaran 12 kali—salah satu yang terendah di kawasan.
Walaupun laba korporasi tahun 2025 diperkirakan turun sekitar 5 persen, JP Morgan optimistis situasi akan berbalik pada 2026 dengan potensi rebound 5 hingga 10 persen. Menurut Henry, fundamental pertumbuhan laba adalah kunci utama daya tarik pasar.
Tanpa pertumbuhan nyata, momentum hanya jadi “kembang api sesaat.”
Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah Jadi Penopang
Kebijakan moneter juga tidak kalah penting.
JP Morgan memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin, dan Bank Indonesia bisa saja menyesuaikan BI Rate ke level 4,25 persen.
Selain itu, stabilnya dolar AS dianggap menjadi faktor yang menjaga rupiah tetap kuat.