Dengan suara bergetar, Amanda Syahwaldi menuturkan kesedihannya.
“Ini Kasi-ku kodong… dia wakili ka, terjebak ki api, lompat ki turun, astagfirullah,” ucapnya.
Ucapan itu menggambarkan betapa berat kehilangan seorang rekan kerja sekaligus sosok pengabdi masyarakat.
Kerusuhan ini tidak hanya meninggalkan kerugian fisik berupa gedung DPRD yang terbakar, tapi juga luka mendalam karena adanya korban jiwa.
Tragedi ini jadi pengingat bahwa unjuk rasa yang seharusnya menjadi wadah menyuarakan aspirasi, bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan jika tidak terkendali.***