TITIKTEMU.CO - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja menyampaikan peringatan penting kepada seluruh masyarakat Indonesia.
Meskipun secara kalender Indonesia sudah memasuki musim kemarau, namun kondisi cuaca di berbagai wilayah belum stabil. Bahkan, potensi cuaca ekstrem masih tinggi dan bisa terjadi kapan saja.
Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, memasuki pekan kedua Juli 2025, baru sekitar 30 persen wilayah di Indonesia yang benar-benar masuk musim kemarau.
Baca Juga: Indonesia Hujan Salju 2026? Cek Fakta Ilmiah dan Klarifikasi BMKG
“Artinya, sebagian besar wilayah lainnya masih berada dalam kondisi peralihan dan tetap memiliki potensi hujan sedang hingga lebat,” kata Dwikorita dilansir dari situs resmi BMKG.
Dwikorita menambahkan wilayah yang masih berpotensi diguyur hujan deras antara lain Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dalam sepekan ke depan, hujan bisa datang disertai petir dan angin kencang.
Penyebab Cuaca Ekstrem
Menurut Dwikorita, fenomena cuaca ekstrem dipengaruhi dinamika atmosfer yang kompleks. Ada beberapa faktor yang memicu terbentuknya awan-awan konvektif, yaitu awan yang bisa menghasilkan hujan lebat hingga badai petir.
Beberapa fenomena global dan regional yang turut memengaruhi antara lain:
Gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, yang membuat pembentukan awan hujan lebih aktif.
Zona konvergensi atau pertemuan angin, yang memaksa uap air berkumpul di satu wilayah sehingga memperbesar peluang hujan.
Sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik, yang menambah kekuatan pembentukan hujan dan angin kencang.
Meski kita sudah berada di pertengahan musim kemarau, semua faktor tersebut masih mendukung terjadinya hujan lebat di banyak wilayah Indonesia.
Baca Juga: BMKG: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Perlu Direspons Cepat Pemerintah Daerah