Tak hanya mendorong inklusi perempuan di industri teknologi, pemerintah juga memperkuat regulasi terkait perlindungan anak di ruang digital.
Baca Juga: Film Believe Raih Best Director di Festival Film Internasional Montreal 2025
Salah satunya adalah PP Tunas (Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) yang mengatur penyedia layanan digital, termasuk game online.
> “PP Tunas berlaku untuk semua penyelenggara sistem elektronik. Kami ingin pastikan bahwa konten game tidak berisiko merugikan anak-anak,” jelas Meutya.
Game Tak Hanya Hiburan, Tapi Harus Edukatif dan Aman
Menkomdigi juga mengingatkan para pengembang game bahwa game bukan sekadar hiburan, tetapi juga berpotensi besar dalam membentuk karakter dan perilaku anak.
Oleh karena itu, setiap konten yang dikembangkan perlu dipikirkan secara matang — dari sisi dampak psikologis hingga potensi terjadinya perundungan.
“Saya menitipkan pesan kepada para developer agar lebih peduli pada aspek perlindungan anak, terutama dalam menghadirkan konten yang sehat dan positif,” tegasnya.
Mewujudkan Ekosistem Game yang Positif Dimulai dari Sekarang
Langkah untuk menciptakan game yang ramah anak memang tidak mudah, tetapi bukan hal yang mustahil.
Perempuan developer yang semakin banyak terlibat dalam industri ini memberikan harapan baru.
Didukung dengan regulasi yang tepat dan kesadaran dari para pelaku industri, Indonesia berpeluang besar menghadirkan ekosistem digital yang sehat bagi generasi muda.***