Ia menyebut proyek ini lahir dari ide membangun kolaborasi antar negara yang saling melengkapi.
“Proyek ini adalah gagasan awal untuk kolaborasi antara negara yang memiliki sumber daya alam dengan negara yang unggul di teknologi dan pasar,” ujar Bahlil.
Baca Juga: Viral Memo Titip Siswa SPMB 2025,Wakil Ketua DPRD Banten: Hanya Mengabulkan Permintaan Staf
Indonesia Kaya Bahan Baku, Perlu Teknologi Pengolahan
Bahlil menjelaskan lebih lanjut bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam berlimpah yang menjadi bahan utama baterai.
“Kita punya nikel, mangan, dan kobalt. Untuk lithium memang masih terbatas, tapi semua bahan penting lainnya kita miliki,” jelasnya.
Namun di sisi lain, ia mengakui bahwa teknologi pengolahan baterai masih belum berkembang secara menyeluruh di Indonesia.
Karena itulah, kerja sama dengan China—terutama CATL—dianggap penting untuk mentransfer teknologi dan membangun industri yang lebih maju.
CATL, Pemain Global di Industri Baterai
Bahlil menekankan bahwa CATL adalah salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia saat ini.
Kolaborasi dengan perusahaan sekelas CATL diharapkan mampu mempercepat alih teknologi ke Indonesia dan memperkuat posisi industri baterai dalam negeri di pasar global.
Target Produksi Hingga 15 GWh
Proyek baterai listrik terintegrasi ini dirancang untuk menghasilkan kapasitas produksi hingga 15 gigawatt hour (GWh) dalam dua tahap.
Pada tahap pertama, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 6,9 GWh pada 2026.
Tahap selanjutnya akan menambah kapasitas untuk memenuhi kebutuhan kendaraan listrik di pasar domestik maupun ekspor.