Pendekatan Tradisional: Ambil Secukupnya, Lestarikan Alam
Dalam Ekspedisi Tanah Papua tahun 2008, ditemukan bahwa masyarakat lokal bersama Kesultanan Tidore kala itu menjalankan praktik pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Alam tidak dieksploitasi secara besar-besaran, melainkan diambil seperlunya untuk kehidupan sehari-hari.
Eksploitasi Modern Baru Dimulai Abad ke-20
Pemanfaatan sumber daya dalam skala industri baru benar-benar terasa di wilayah Papua, termasuk Raja Ampat, pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1930-an.
Pemerintah kolonial kala itu mulai melihat potensi besar dari bumi Papua dan mulai membuka wilayah tersebut untuk kegiatan pertambangan.
Menimbang Masa Depan Raja Ampat
Keputusan pemerintah untuk mencabut izin tambang di Raja Ampat menandai langkah strategis untuk menyeimbangkan antara ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Aspirasi masyarakat lokal yang menginginkan pelestarian warisan alam dan budaya menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan ini.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah siap merespons masukan masyarakat dalam pengambilan kebijakan, terutama di wilayah yang sensitif secara ekologi seperti Raja Ampat.***