Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pendirian UIII dan PIII adalah bagian dari proyek besar global yang diinisiasi dari dialog antar kepala negara.
Berbeda dengan UIN yang sudah ada, UIII dirancang untuk melahirkan pemikir dan diplomat Islam kelas dunia.
“UIII dan PIII akan mencetak lulusan yang bisa menjadi guru agama dan duta Islam moderat di berbagai penjuru dunia,” kata Pratikno.
Baca Juga: Festival Istiqlal Akan Dihidupkan Kembali Setelah Vakum 30 Tahun
Pendidikan Pesantren Bertaraf Internasional
Dirjen Pendidikan Islam, Suyitno, menjelaskan bahwa PIII akan mengintegrasikan pendidikan diniyah klasik, capaian kompetensi nasional, dan standar internasional.
Kurikulum PIII tidak hanya mencakup ilmu agama tertulis, tetapi juga sains dan kajian alam.
Santri PIII akan dibekali dengan kemampuan bahasa asing, teknologi, dan kewirausahaan, sehingga siap menghadapi tantangan sosial sekaligus menjadi agen perubahan di komunitas global.
Baca Juga: Cara Mengurus SKCK: Panduan Praktis untuk Offline dan Online
Menuju Generasi Pemimpin Umat dan Ekonomi Santri
PIII dirancang untuk mencetak generasi santri yang tidak hanya berilmu dan berakhlak, tetapi juga siap menggerakkan ekonomi umat melalui kewirausahaan.
Pesantren ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk membangun SDM unggul, memperkuat toleransi antarumat, dan mendorong pemerataan ekonomi.
Baca Juga: Libur Nasional Mei 2025: Apakah Tanggal 2 Mei Hari Pendidikan Nasional Libur? Cek Jadwal Lengkapnya!
PIII: Harapan Baru untuk Masa Depan Islam Moderat
Dengan pendekatan pendidikan yang menyentuh aspek akal, jiwa, dan kehidupan sosial, Pesantren Istiqlal Internasional Indonesia digadang-gadang sebagai lokomotif baru peradaban Islam Indonesia.