nasional

Trump Tetap Ngotot Pindahkan Lakukan Relokasi, Warga Palestina Tetap Ingin Hidup di Antara Sisa Puing-puing

Jumat, 31 Januari 2025 | 08:54 WIB
Potret warga Palestina saat diculik penduduk Israel sebelum gencatan senjata. (instagram.com/motaz_azaiza)

Sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 46.700 warga Palestina tewas, termasuk 18.000 anak-anak.

Hampir 1,9 juta orang mengungsi, sementara infrastruktur kota mengalami kerusakan parah.

Data menunjukkan bahwa 92% jalan utama dan 84% fasilitas kesehatan hancur akibat serangan tersebut.

Baca Juga: Pendaftaran S1 Universitas Pertahanan 2025 Dibuka: Kuliah Gratis dan Lulus Berpeluang Langsung Berpangkat Letda

Mengingat Nakba dan Menolak Sejarah Terulang

Abu Suleiman menegaskan bahwa pengalaman pahit Nakba tahun 1948 masih membekas dalam ingatan warga Palestina.

Pada saat itu, sekitar 750.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka setelah berdirinya Israel.

“Kami memahami betul apa yang terjadi saat itu. Mereka yang pergi tidak pernah kembali. Kami tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali,” tegas Abu Sulaeman di waktu yang bersamaan.

Baca Juga: KIP Kuliah 2025: Buka Februari? Cek Jadwal, Syarat, dan Cara Daftarnya di Sini!

Banyak warga Gaza yang tetap memilih bertahan, meskipun ada peluang untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Mereka menganggap mempertahankan tanah air sebagai bagian dari identitas dan perlawanan mereka.

Israa Mansour, seorang ibu empat anak yang kini tinggal di tenda darurat setelah rumahnya hancur, juga menolak gagasan relokasi.

“Kami memilih bertahan bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena ini adalah rumah kami,” ujarnya.

Baca Juga: Lowongan Kerja Bank BCA Kalsel Terbaru 2025: Magang Bakti untuk Lulusan SMA hingga S1, Simak Syarat dan Kualifikasinya

Namun, ia menegaskan bahwa untuk dapat bertahan, warga Palestina membutuhkan dukungan berupa akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan.

Halaman:

Tags

Terkini