Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka didirikanlah organisasi sukarelawan guna menjadi bagian medis angkatan darat pada masa perang.
Pada tahun 1864, Konferensi Internasional terjadi atas prakarsa Pemerintah Federal Swiss untuk menyetujui adanya perbaikan kondisi prajurit yang cedera di medan perang.
Baca Juga: Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mandiri 2024 Periode September , Majukan Pendanaan Bagi UMKM di Indonesia
Konvensi Jenewa itu diselenggarakan sebanyak empat kali pada tahun 1949, konvensi ini adalah salah satu komponen dari Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI), suatu ketentuan internasional yang mengatur perlindungan dan bantuan korban perang.
Palang Merah Indonesia Lahir
Palang Merah di Indonesia sudah ada sejak masa sebelum Perang Dunia 2 yang digagas oleh Kolonial Belanda di Indonesia.
Dulu, palang merah di Indonesia dinamakan Nederlands Rode Kruis Afdeling Indië (Nerkai) yang berdiri pada tahun 1873. Namun, organisasi ini dibubarkan pada masa pendudukan Jepang.
Baca Juga: KABAR GEMBIRA! Lowongan Kerja di BUMN Bank Mandiri untuk Lulusan S1 Periode September 2024
Palang Merah Indonesia mulai eksis sejak 1932, dipelopori oleh Dr. RCL Senduk dan Dr. Bahder Djohan yang mendapatkan dukungan luas dari kalangan terpelajar Indonesia.
Perjuangan untuk mendirikan PMI ini, tepatnya bermula saat rancangan mereka dibawakan ke sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940. Namun, rancangan tersebut ditolak mentah-mentah.
Harapan mulai muncul, ketika mereka kembali mencoba membentuk Badan Palang Merah Nasional pada masa pendudukan Jepang, meski mendapatkan halangan dari Pemerintah Tentara Jepang.
Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional, pada tanggal 3 September 1945.
Setelah diresmikan presiden, PMI pun mulai merintis kegiatan kemanusiaan dengan memberikan bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia, serta pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang.
Perkembangan jaringan kerja PMI semakin tersebar di 30 provinsi dengan dukungan operasional 165 unit transfusi darah di Indonesia.