TITIKTEMU.CO - Pemerintah segera menetapkan awal atau mulai puasa Ramadhan 2024 melalui sidang isbat yang dijadwalkan pada Minggu, 10 Maret 2024.
Penetapan akan didasarkan pada dua metode penentuan awal bulan Hijriah, yaitu imkanur rukyat dan hisab wujudul hilal.
Dua metode ini menjadi penyebab munculnya perbedaan awal puasa Ramadhan atau penetapan 1 Ramadhan.
Metode imkanur rukyat didasarkan pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung yang berbentuk sabit atau belum terlihat bulat dari bumi.
Sedangkan metode hisab wujudul hilal betrdasarkan perhitungan astronomis. Hilal bisa diyakini muncul meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang selama memenuhi persyaratan.
Kedua metode ini didasarkan dari hadits riwayat Abu Hurairah yang menyatakan, “Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan.
Apabila tidak tampak olehmu bulan, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari."
Metode ini mempertimbangkan tiga syarat kriteria dalam penentuan hilal, salah satunya telah terjadi ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam.
Baca Juga: Festival Apem Ruwahan Kampung Ratmakan Untuk Menyambut Bulan Ramadhan
Mulai Puasa Ramadhan 2024 versi Pemerintah
Dalam menetapkan awal atau mulai puasa Ramadhan 2024, pemerintah merujuk pada data hisab dan hasil rukyatul hilal dari tim Kemenag pada 134 lokasi di seluruh Indonesia
Hasil hisab dari semua sistem sepakat ijtimak menjelang Ramadan jatuh pada Minggu, 10 Maret 2024. Sedangkan awal 1 Ramadhan 2024 atau mulai puasa menurut kalender Hijriah adalah Selasa 12 Maret 2024.
Ketentuannya, jika hilal sudah terlihat, maka malam itu masuk bulan baru. Jika hilal tidak terlihat, malam itu adalah tanggal 30 bulan yang berjalan. Malam berikutnya mulai tanggal satu bulan baru atas dasar digenapkan.