TITIKTEMU.CO- Semalam kita memasukimalam nisfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya‘ban. Tidak sedikit umat Islam yang bertanya untuk mengganti puasa ramadan tahun lalu setelah nisfu Sya'ban.
Utang puasa sendiri sebenarnya harus dibayar karena itu adalah hak Allah meskipun manfaatnya berpulang kepada manusia, bukan kepada Allah. Adapun terkait puasa setelah memasuki nisfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya‘ban, ulama berbeda pendapat.
Sebagian ulama mengharamkan puasa pada pertengahan bulan Sya‘ban hingga Ramadhan tiba. Mereka mendasarkan pada antara lain hadits riwayat Abu Dawud berikut ini:
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا انتصف شعبان فلا تصوموا
Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila hari memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa,’” HR Abu Dawud.
Baca Juga: Apa Hukum Merayakan Malam Nisfu Syaban? Inilah Keistimewaan dan Amalan Sunnah yang Dianjurkan
Sementara ulama yang membolehkan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban juga bersandar pada hadits riwayat Ummu Salamah dan Ibnu Umar RA yang ditahqiq oleh At-Thahawi. Perbedaan pendapat dan argumentasi masing-masing ulama ini diangkat oleh Ibnu Rusyd sebagai berikut:
وأما صيام النصف الآخر من شعبان فإن قوما كرهوه وقوما أجازوه. فمن كرهوه فلما روي من أنه عليه الصلاة والسلام قال: لا صوم بعد النصف من شعبان حتى رمضان. ومن أجازه فلما روي عن أم سلمة قالت: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صام شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان، ولما روي عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرن شعبان برمضان. وهذه الآثار خرجها الطحاوي
Artinya, “Adapun mengenai puasa di paruh kedua bulan Sya’ban, para ulama berbeda pendapat. Sekelompok menyatakan, makruh. Sementara sebagian lainnya, boleh. Mereka yang menyatakan ‘makruh’ mendasarkan pernyataannya pada hadits Rasulullah SAW, ‘Tidak ada puasa setelah pertengahan Sya’ban hingga masuk Ramadhan.’
Sementara ulama yang membolehkan berdasar pada hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah RA dan Ibnu Umar RA. Menurut Salamah, ‘Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali puasa Sya’ban dan Ramadhan.’
Baca Juga: Mengapa Nisfu Syaban Dianggap Istimewa dalam Islam?
Ibnu Umar RA menyatakan, Rasulullah SAW menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan. Hadits ini ditakhrij oleh At-Thahawi,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2013 M/1434 H], cetakan kelima, halaman 287).
Terkait utang puasa, dikutip dari NU Online, sebaiknya diqadha sesegera mungkin meskipun setelah pertengahan bulan Sya’ban. Disarankan pula mereka yang memiliki utang puasa untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk mengqadhanya selagi Ramadhan belum tiba, tetapi juga selagi diberi kesempatan usia.
Sumber: https://www.nu.or.id/bahtsul-masail/hukum-qadha-puasa-setelah-lewat-nisfu-syaban-29KNe
Artikel Terkait
Mengapa Nisfu Syaban Dianggap Istimewa dalam Islam?
Bagaimana Cara Merayakan Nisfu Syaban 2024/1445 bagi Umat Islam? Berikut Sejarah dan Tips Memperingati
Apakah Keutamaan Nisfu Syaban untuk Umat Islam? Berikut 3 Amalan Khusus dan Penjelasannya
Apa Hukum Merayakan Malam Nisfu Syaban? Inilah Keistimewaan dan Amalan Sunnah yang Dianjurkan