Fenomena Joki Strava: Saat Lari Digital Berubah Jadi Lomba Gengsi

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Rabu, 13 Agustus 2025 | 10:05 WIB
Platform Strava, pelacak aktivitas olahraga yang mewarnai tren baru di Indonesia. () (Unsplash.com/AppShunter)
Platform Strava, pelacak aktivitas olahraga yang mewarnai tren baru di Indonesia. () (Unsplash.com/AppShunter)

Masalahnya, joki Strava membuat nilai olahraga lari jadi semu.

Lari seharusnya soal pencapaian pribadi, kerja keras, dan konsistensi.

Saat seseorang meminta orang lain berlari demi dirinya, esensi itu hilang.

Lebih buruk lagi, papan peringkat dan rekor pribadi jadi tidak mencerminkan kemampuan asli, merugikan pelari yang berusaha dengan jujur.

Contoh Nyata dari Indonesia

Tren ini ternyata sudah sampai ke Indonesia.

Salah satunya dilakukan oleh remaja 17 tahun berinisial “S” yang mematok tarif unik: Rp10.000 per kilometer untuk pace 4:00 menit/km, dan Rp5.000 per kilometer untuk pace 8:00 menit/km.

Pekerjaan terbesarnya bahkan menghasilkan sekitar Rp100.000—lebih dari 5 persen UMR bulanan di Indonesia.

Fenomena yang Menyebar Global

Meski sekarang ramai dibicarakan di Indonesia, joki Strava sebenarnya bukan fenomena lokal.

Di berbagai negara, dorongan mendapatkan validasi di media sosial mendorong tren ini untuk terus berkembang.

Pertanyaannya, apakah ini akan menjadi bagian dari “budaya lari” baru atau sekadar tren musiman yang segera pudar?

joki Strava, fenomena Strava, tren olahraga digital, aplikasi Strava, lari online***

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X