PM China Berkunjung ke Indonesia. Buka Peluang Proyek Strategis: Dari Gerbong Kereta hingga Industri Kimia

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 25 Mei 2025 | 17:34 WIB
Perdana Menteri China, Li Qiang datang ke Indonesia (instagram/presidenrepublikindonesia)
Perdana Menteri China, Li Qiang datang ke Indonesia (instagram/presidenrepublikindonesia)


TITIKTEMU.CO - Kunjungan resmi Perdana Menteri China, Li Qiang, ke Indonesia pada Minggu 25 Mei 2025, bukan sekadar agenda seremonial.

Pemerintah menyatakan bahwa lawatan ini membawa kerja sama ekonomi dan percepatan investasi besar antara kedua negara.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa investasi senilai 10 miliar dolar AS yang sebelumnya telah disepakati kini mulai direalisasikan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Calon Dubes RI untuk AS, Empat Nama Masuk Radar

"Investasi tersebut sudah mulai berjalan dan mencakup sejumlah sektor strategis," ujarnya kepada media saat menyambut PM Li Qiang di Lanud Halim Perdanakusuma, Minggu 25 Mei 2025.

Tak hanya proyek yang telah berjalan, kunjungan ini juga akan membuka peluang baru dalam berbagai sektor.

Menurut Rosan, Indonesia dan China tengah menjajaki kerja sama lanjutan di bidang transportasi, pengembangan kawasan industri, hilirisasi mineral, hingga industri kimia.

Baca Juga: Persib Juara Liga 1, Gelaran Piala Presiden 2025 Dihelat di Bandung

"Yang baru ini sifatnya lintas sektor, mulai dari gerbong kereta api, industri baterai kendaraan listrik, hingga industri kimia," kata Rosan.

Ia juga menekankan bahwa proyek-proyek tersebut merupakan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta, BUMN, dan mitra internasional.

Rosan juga menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen memperluas kerja sama ekonomi dengan China sebagai bagian dari strategi memperkuat industri nasional.

Baca Juga: PSG Sapu Bersih Gelar Domestik Prancis, Kini Bidik Treble Winner Memburu Tropy Liga Champions

Menanggapi pertanyaan soal hubungan ekonomi Indonesia dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, Rosan menekankan bahwa fokus pemerintah tetap pada hubungan bilateral yang saling menguntungkan.

"Kita akan lebih fokus untuk pembahasan penguatan kolaborasi," pungkasnya.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X