BMKG mengingatkan masyarakat agar mulai menyiapkan cadangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mengingat potensi kekeringan yang bisa terjadi.
Pemerintah daerah juga diminta aktif menyimpan air di waduk, embung, atau sumber air lainnya guna mengantisipasi kekurangan air saat kemarau berlangsung.
“Harap waspada terhadap risiko dehidrasi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta keterbatasan air bersih,” tambah Zauyik.
Baca Juga: BMKG: Awas Puncak Musim Hujan Ancam Jawa Tengah
Saran untuk Petani: Penyesuaian Jadwal Tanam dan Varietas Tahan Kering
Kepala Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, menyarankan para petani agar menyesuaikan jadwal tanam, terutama di wilayah yang lebih cepat memasuki musim kemarau.
Ia juga menyarankan penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta pengelolaan air yang efisien agar kebutuhan air untuk pertanian, air minum, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tetap tercukupi.
“Musim kemarau diprediksi datang lebih awal dari arah utara karena pengaruh monsun dari Australia yang membawa uap air lebih banyak ke bagian selatan,” jelas Goeroeh.***
Artikel Terkait
BMKG: Waspada Bencana Hidrometeorologi, La Nina Berlangsung Hingga April 2025!
BMKG: Awas Puncak Musim Hujan Ancam Jawa Tengah
BMKG: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Perlu Direspons Cepat Pemerintah Daerah
Mudik Lebaran 2025, BMKG Sediakan Informasi Cuaca Terintegrasi
Prakiraan Cuaca BMKG Jawa Tengah dan Jawa Timur 16-17 Maret 2025, Apakah Hujan Lebat?
Musim Kemarau 2025 Sudah Dimulai, Tapi Kok Masih Hujan? Ini Penjelasan Lengkap BMKG