“Menuju Indonesia Emas 2045, peran orang muda dalam agenda-agenda pembangunan menjadi semakin krusial, termasuk pembangunan industri kreatif dan perfilman. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menyampaikan bahwa orang muda harus berani berada di arena, harus maju sebagai pemimpin, bukan berada di pinggiran,” lanjutnya.
Lebih lanjut Arief menjelaskan bahwa pemerintah perlu lebih berpihak kepada ekosistem Perfilman yang ada di Indonesia.
“Dalam bidang apapun itu, regenerasi menjadi salah satu kunci untuk keberlanjutan. Saya rasa, di industri perfilman pun demikian. Insan-insan perfilman yang hari ini semakin banyak diisi orang muda insya Allah menjadi penerus yang akan mendorong film Indonesia di kancah internasional. Pemerintah perlu lebih berpihak pada ekosistem perfilman agar mampu membuka semakin banyak lapangan kerja bagi orang muda dan mendorong secara maksimal potensi ekonomi kreatif untuk Indonesia Maju,” jelas Arief.
Baca Juga: INDOSIAR Mempersembahkan Mega Series Action “Tiger Kung Fu of Wulin”, Ini Ringkasan Ceritanya
Pada kesempatan ini, Ketua Bidang Bisnis dan Pembiayaan Badan Perfilman Indonesia Celerina Judisari juga menyampaikan.
“Indonesia perlu rajin untuk mengunjungi Festival Film International seperti Beijing International Film Festival ke-14 ini, terus menjalin hubungan, dan memberikan update ke masyarakat dunia bahwa perkembangan film di Indonesia.” ucapnya.
Lebih lanjut, Celerina yang akrab disapa Ayie, juga menyampaikan bahwa Indonesia ke depan pun mampu membuat forum seperti ini agar kemajuan film di Indonesia lebih dikenal lagi oleh dunia dan ekosistem perfilman semakin maju.
Adapun Beijing International Film Festival (BJIFF) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011. Tahun ini, BJIFF dipimpin oleh China Film Administration dalam kerja sama dengan berbagai badan pemerintahan tingkat nasional dan daerah, juga dengan pihak privat.
Tentang Film LAFRAN
Film LAFRAN adalah film biopik tentang pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pahlawan Nasional, Lafran Pane (diperankan oleh Dimas Anggara), ini diawali sejak Lafran kecil (Nabil Lungguna), yang cerdas namun kurang disiplin.
Lafran tumbuh menjadi pemberontak dan pindah ke pelbagai sekolah, bahkan sempat menjadi petinju jalanan. Sementara abangnya, pujangga Sanusi Pane (Aryo Wahab), dan Armijn Pane (Alfie Afandi), mendorong Lafran agar energinya disalurkan dalam bentuk karya.
Saat pendudukan Jepang, Lafran sempat ditahan karena membela para peternak sapi. Ia kemudian dibebaskan setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan bus Sibual-buali kepada tentara Jepang.
Semasa kuliah di Jogjakarta, Lafran gelisah melihat kaum muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekuler, dan melupakan ibadah.
Ia pun mendirikan HMI sebagai wadah untuk berjuang dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan serta nonpolitik.
Artikel Terkait
Segera Diproduksi, Lionsgate Rilis Deretan Pemain Now You See Me 3
Konser Sheila On 7 Tunggu Aku di Lima Kota, Ini Jadwal Pembelian Tiketnya
Siap-siap! Sheila On 7 Bawakan Lagu Baru dalam Konser Tunggu Aku di Lima Kota
Will Love in Spring, Drama China Paling Romantis, Link Nonton DI SINI
Rekomendasi 7 Film Indonesia Bertema Perempuan, Cocok Ditonton Saat Hari Kartini
Pamali: Dusun Pocong Kini Bisa Disaksikan Di Netflix, Awas Jangan Langgar Pantangan
LINK NONTON Drakor Queen of Tears Episode 13 Sub Indo dan Spoiler