TITIKTEMU.CO, GORONTALO - Secara etimologi Binte atau milu artinya ‘jagung’ dan biluhuta bermakna ‘disiram’. Sehingga binte biluhuta dapat dimaknai sebagai “kuliner berbahan dasar jagung yang dimasak bercampur kuah.”
Binte atau milu siram sudah ada sejak abad 15. Saat itu beberapa kerajaan di Sulawesi kerap bertikai, seperti Kerajaan Gorontalo dengan Limboto dan untuk mendamaikannya dilakukan lewat diplomasi kuliner.
Secara filosofi, pipilan jagung yang tercerai-berai dari bonggolnya akibat bertikai lalu dipersatukan dalam hidangan penuh kenikmatan.
Baca Juga: Duh! Klaster PTM di Solo Bertambah. Gibran: Tenang, Tatap Muka Jalan Terus
Bisa disebut juga sebagai sup jagung. Kehadiran pipilan-pipilan jagung dalam semangkuk binte biluhuta bisa menjadikan badan lebih sehat karena mengandung protein, serat, karbohidrat, mineral, vitamin B dan C, juga sebagai antioksidan.
Baca Juga: Jumlah Jamaah Lebih Banyak Dibanding Laki-Laki, Kemenag Akan Tambah Pembimbing Haji Perempuan
Provinsi Gorontalo merupakan salah satu lumbung jagung nasional, Kementerian Pertanian mencatat, dari 24,95 juta ton produksi jagung nasional pada 2020,
Bumi Serambi Madinah sebutan lain dari Gorontalo menyumbang hampir 1 juta ton yang dipanen dari lahan seluas 212 ribu hektare.
Dalam semangkuk binte biluhuta memiliki banyak rasa. Ada pedas, asam, dan manis. Semua bersumber dari pertempuran berbagai bumbu dalam proses pembuatan kuahnya.
Baca Juga: 7 Kedai Kopi Jalanan di Solo yang Asyik, dari Gerobak sampai Combi
Jenis jagung untuk binte biluhuta bukan seperti yang biasa kita lihat, berwarna kuning oranye. Jenis tanaman keluarga Serealia yang umumnya dipakai namanya jagung pulut. varietas asli Gorontalo.***