Mengapa Terjadi Konflik di Wadas? Ini Persoalan 11 Tahun, Sejak Dicanangkan Pembangunan Bendungan Bener

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 11 Februari 2022 | 19:54 WIB
Lokasi tambang batu andesit yang dipersoalkan warga Wadas (Instagram Leonard-Human Right)
Lokasi tambang batu andesit yang dipersoalkan warga Wadas (Instagram Leonard-Human Right)

Baca Juga: LRT Jabodebek Dioperasikan Otomatis dari Pusat Kendali, PT KAI Siapkan 123 Prama Prami di Setiap Rangkaian

Bendungan Bener akan mengairi lahan seluas 15.069 hektare, dan mengurangi debit banjir hingga 210 meter kubik per detik.

Selain itu, bendungan juga akan menyediakan pasokan air baku sebesar 1,60 meter per detik, serta menghasilkan listrik sebesar 6 MW.

Sejak 2013 warga desa Wadas melakukan perlawanan. Walhi, Gempa Dewa, dan LBH Yogyakarta menyebut konflik di desa Wadas memanas mulai 2018.

Baca Juga: Uji Coba Resmi Sirkuit Mandalika yang Menjadi Trek Baru di Kalender MotoGP 2022

Awalnya warga desa Wadas memprotes Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang menerbitkan izin lingkungan untuk Bendungan Bener.

Pasalnya, desa Wadas yang masuk dalam wilayah terdampak tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan, atau sebelumnya tidak ada dialog.

Warga Wadas melakukan walk out saat BBWS Serayu-Opak melakukan sosialisasi pengadaan tanah untuk pembangunan bendungan.

Baca Juga: Arsenal Kembali ke Jalur Kemenangan, Memburu Peluang ke Zona Liga Champions

Warga menolak SK Gubernur Jateng Nomor 590/41 Tahun 2018 tentang penetapan lokasi pengadaan tanah. Pasalnya, Ganjar tidak pernah merespon penolakan warga.

Warga melakukan aksi protes saat SK Gubernur Jawa Tengah Nomor 590/41 Tahun 2018 diperpanjang. Mereka mendatangi kantor BBWS-SO, dan melaporkan Ganjar ke Ombudsman.

Aksi demontrasi berlanjut ke Kantor Pertanahan Purworejo. Warga mengirimkan surat penolakan dan keberatan atas rencana inventarisasi dan identifikasi pengadaan tanah.

Baca Juga: Universitas Pertamina Tawarkan Program Beasiswa bagi Lulusan SMA dan Sederajat. Kuy Daftar! Begini Caranya

Perwakilan ibu-ibu Wadas juga melakukan audiensi dengan Kapolres Purworejo. Mereka meminta polisi netral, dan menghentikan kekerasan terhadap warga.

April lalu, 11 warga ditangkap polisi saat menolak kedatangan BBWS-SO yang akan memasang patok trase di desa Wadas.*** (Ken Mahesa Pamenang/karanganyarnews.pikiran-rakyat.com)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: karanganyarnews.pikiran-rakyat.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X