Namun pangkat tersebut masih berada satu tingkat di bawah Ayatollah, gelar yang dimiliki oleh ayahnya serta pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Baca Juga: Prabowo Putar Arah Soal Iran, Kirim Duka untuk Khamenei, Beri Sinyal Keluar dari Board of Peace
Sosok yang Jarang Muncul di Publik
Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran lainnya, Mojtaba dikenal sebagai figur yang jarang tampil di depan publik.
Dia hampir tidak pernah memberikan pidato terbuka dan lebih sering bekerja di balik layar. Meski demikian, ia kerap terlihat hadir dalam demonstrasi besar yang mendukung pemerintah Iran.
Peran tidak resminya dalam pemerintahan telah lama menjadi kontroversi. Banyak pihak di Iran menolak munculnya politik dinasti, mengingat revolusi 1979 sebelumnya justru menggulingkan sistem monarki.
Pernah Dijatuhi Sanksi AS
Pada tahun 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei.
Pemerintah AS menilai dia mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam berbagai urusan penting meskipun tidak pernah dipilih atau diangkat secara resmi dalam pemerintahan.
Washington juga menuduh Mojtaba bekerja sama dengan unit elit IRGC, termasuk Pasukan Quds dan milisi Basij, untuk memperluas pengaruh regional Iran.
Baca Juga: Video Viral Perlihatkan Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Masih Hidup, Lolos dari Serangan?
Target Kritik Demonstran
Nama Mojtaba juga pernah menjadi sasaran kritik dalam berbagai aksi protes di Iran. Salah satunya terjadi setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.
Mahsa Amini meninggal saat berada dalam tahanan polisi moral setelah ditangkap karena dianggap melanggar aturan berpakaian ketat di Iran. Peristiwa tersebut memicu gelombang demonstrasi besar di berbagai kota.
Para demonstran saat itu juga mengkritik peran Mojtaba dalam struktur kekuasaan negara.