Megaproyek Rp532 Triliun Thailand Siap Saingi Selat Malaka, Jalur Baru Perdagangan Dunia?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Selasa, 28 April 2026 | 20:25 WIB
Ilustrasi Thailand siapkan Land Bridge (Instagram @aseannowthailand)
Ilustrasi Thailand siapkan Land Bridge (Instagram @aseannowthailand)

TITIKTEMU.CO - Di tengah perubahan dinamika perdagangan global dan meningkatnya ketegangan di sejumlah jalur pelayaran strategis, pemerintah Thailand kembali menghidupkan ambisi lama.

Mereka membangun sebuah jalur logistik raksasa yang dapat menghubungkan dua samudra besar sekaligus membuka alternatif baru bagi arus perdagangan internasional.

Proyek ini dikenal dengan nama Land Bridge, sebuah megaproyek infrastruktur yang diperkirakan menelan biaya sekitar 1 triliun baht atau setara lebih dari Rp532 triliun.

Gagasan ini kembali mendapat momentum setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas sejumlah jalur laut penting dunia, termasuk penutupan sementara Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak global.

Situasi tersebut mendorong banyak negara untuk mencari rute alternatif guna menjaga kelancaran perdagangan dan energi dunia.

Dalam konteks inilah Thailand melihat peluang besar.

Pemerintah ingin menciptakan koneksi langsung antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik melalui jalur darat modern yang dilengkapi berbagai fasilitas logistik.

Jika berhasil, proyek ini berpotensi menjadi salah satu koridor transportasi paling strategis di Asia Tenggara.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, bahkan secara aktif mempromosikan proyek tersebut kepada berbagai negara yang dianggap memiliki kapasitas investasi besar.

Salah satu target utamanya adalah Singapura yang dikenal sebagai pusat logistik dan pelabuhan tersibuk di kawasan. Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, Anutin menjelaskan potensi ekonomi dan keuntungan strategis dari proyek tersebut.

Secara konsep, Land Bridge dirancang sebagai jalur alternatif bagi Selat Malaka yang selama ini menjadi rute pelayaran utama antara Asia Timur dengan Timur Tengah maupun Eropa.

Selat Malaka sendiri memiliki panjang sekitar 900 kilometer dan melintasi wilayah beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Ketergantungan dunia terhadap jalur tersebut membuatnya menjadi titik sempit atau chokepoint yang sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik maupun keamanan.

Baca Juga: Lupakan 10.000 Langkah! Tiga Pertanyaan Sederhana Ini Justru Lebih Menyembuhkan Mentalmu

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Instagram @aseannowthailand

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X