Negosiasi AS–Iran Mandek, Harga Minyak dan Emas Dunia Diprediksi Bergejolak Tajam Pekan Depan

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 13 April 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi Gagalnya negosiasi AS–Iran diprediksi memicu volatilitas harga minyak dan emas (Prefik)
Ilustrasi Gagalnya negosiasi AS–Iran diprediksi memicu volatilitas harga minyak dan emas (Prefik)

Gangguan distribusi energi seperti ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang signifikan dan pada akhirnya memperbesar tekanan inflasi global.

Sebaliknya, apabila negosiasi kembali dibuka dan gencatan senjata dapat dipertahankan, pasar energi berpeluang kembali stabil sehingga harga minyak cenderung mengalami koreksi.

Baca Juga: Ramai Sorotan Anggaran Rp113 Miliar untuk EO, Ini Penjelasan Badan Gizi Nasional

Pergerakan Harga Emas Ikut Dipengaruhi Konflik

Selain minyak, harga emas dunia juga diperkirakan mengalami pergerakan yang tidak kalah dinamis. Logam mulia ini sering kali menjadi aset perlindungan nilai ketika ketidakpastian global meningkat.

Jika terjadi koreksi harga, emas diperkirakan dapat turun ke level support awal di sekitar 4.638 dollar AS per troy ounce. Dalam skenario pelemahan lanjutan selama sepekan, harga bahkan bisa bergerak menuju 4.358 dollar AS per troy ounce.

Dalam nilai domestik, pergerakan tersebut dapat membawa harga emas ke kisaran sekitar Rp2.780.000 per gram.

Namun sebaliknya, jika permintaan safe haven meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik, harga emas berpotensi menguat hingga mencapai resistance di sekitar 4.897 dollar AS per troy ounce dengan potensi harga domestik mendekati Rp2.880.000 per gram.

Baca Juga: Wacana War Ticket Haji Ramai Dibahas, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian

Suku Bunga Global dan Nilai Tukar Ikut Menentukan

Arah kebijakan suku bunga global juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga emas. Jika bank sentral utama dunia seperti Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga, maka emas biasanya akan mendapatkan momentum penguatan karena biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, jika inflasi meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral dapat mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, yang berpotensi menekan harga emas.

Di sisi lain, dari perspektif domestik, nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi bertahan di atas level Rp17.000 per dollar AS.

Kondisi ini dapat membuat harga emas di pasar Indonesia tetap tinggi karena penguatan dolar biasanya langsung tercermin pada harga logam mulia di dalam negeri.

Dengan berbagai faktor tersebut—mulai dari konflik geopolitik, distribusi energi global, kebijakan moneter, hingga pergerakan mata uang—pasar komoditas dunia diperkirakan akan menghadapi periode volatilitas yang cukup tajam dalam waktu dekat.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X