TITIKTEMU.CO – Prospek saham berbasis emas dinilai tetap atraktif seiring melonjaknya harga emas dunia serta meningkatnya tensi geopolitik global.
Dalam riset terbaru yang dirilis Jumat (20/2/2026), NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) mempertahankan rekomendasi overweight pada komoditas emas dengan proyeksi harga mencapai USD6.000 per troy ons pada akhir tahun.
NHKSI menilai ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut serta perubahan cepat dalam lanskap perdagangan internasional akan menjaga posisi emas sebagai aset safe haven. Permintaan diperkirakan tetap solid, baik dari investor ritel, institusi, hingga bank sentral. Selain itu, peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) berpotensi menjadi katalis tambahan bagi penguatan harga emas.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG 23 Februari 2026: Jabodetabek Berawan Tebal, Waspada Hujan Petir Malam Hari
Secara global, tren akumulasi emas oleh bank sentral menjadi faktor penopang utama. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia tercatat terus menambah cadangan emasnya dalam sepuluh tahun terakhir. Di sisi lain, produksi tambang emas dunia menunjukkan pertumbuhan yang terbatas.
Sepanjang 2025, produksi emas global hanya meningkat sekitar 1 persen secara tahunan menjadi 3.671,6 ton, mencerminkan tren perlambatan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Di dalam negeri, NHKSI menyoroti produksi emas Indonesia yang belum sepenuhnya pulih akibat hambatan operasional dan kebijakan. Aktivitas di Grasberg Mine sempat terhenti pada September 2025 karena longsor besar.
Baca Juga: Mulai 2026, WhatsApp Setop Dukungan HP Android Lama dan iPhone Jadul Ini Daftarnya
Pemulihan produksi diperkirakan mulai terlihat pada 2026 seiring rencana beroperasinya kembali Grasberg dan dimulainya proyek Pani yang dikelola Merdeka Group. Meski demikian, tantangan perizinan serta perkembangan proyek lain dinilai masih dapat membatasi peningkatan produksi secara signifikan.
Dari sisi permintaan domestik, minat masyarakat Indonesia terhadap emas tetap tinggi. Berdasarkan survei World Gold Council, lebih dari 65 persen responden memilih emas sebagai instrumen investasi utama, baik dalam bentuk emas batangan, perhiasan, maupun efek berbasis emas.
Dengan suku bunga deposito yang berada di kisaran 3,5 persen, tren investasi emas juga disebut berkontribusi pada perlambatan konsumsi domestik.
Baca Juga: Resmi! Asus Hentikan Bisnis Smartphone Mulai 2026, Fokus ke PC dan AI?
Secara kinerja, harga emas menunjukkan performa impresif. Sepanjang 2025, harga emas melonjak sekitar 44 persen setelah sebelumnya naik 33 persen pada 2024. Capaian tersebut melampaui berbagai kelas aset lain, mulai dari saham Asia, saham global, obligasi, hingga komoditas lainnya.
Untuk pilihan saham, NHKSI merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Artikel Terkait
Mulai 2026, WhatsApp Setop Dukungan HP Android Lama dan iPhone Jadul Ini Daftarnya
Fenomena Langka 2026: Imlek, Ramadan, dan Prapaskah Berdekatan, Momentum Toleransi Umat Beragama: Pertama Kali Sejak 1863
Pendaki Gunung Ijen Sempat Hilang, Remaja 16 Tahun Ditemukan Selamat di Tebing Kawah
Viral Bocah di Majalaya Bawa Pulang Makanan Masjid untuk Nenek, Kisahnya Bikin Haru Warganet
Prakiraan Cuaca BMKG 23 Februari 2026: Jabodetabek Berawan Tebal, Waspada Hujan Petir Malam Hari