"Seorang bawahan menerima perintah dari Jendral gitu buat saya itu berat buat dia. Rasa bersalahnya tertekannya ini temennya sendiri loh Abangnya sendiri yang dieksekusi gitu . Ya kalau dilihat itu tarikan wajahnya itu kencang gini nih. Tapi bukan marah."
"Jadi buat saya yang ngeliat aja bisa kerasa gitu kan. Dan saya yakin ibunya Joshua juga dia megang ambil tisu segala macam gitu karena juga nggak tahan sih. Itu momen yang buat saya sangat mengharukan," ucap Kirdi Putra.
Rosti minta Richard berkata jujur, prosesnya tetap berlangsung dan keputusan bukan di tangan kita atau di tangan keluarga ya kan.
"Waktu orang tuanya duduk ya itu kan Reza masih belum masuk kan duluan gitu
duluan kan banyak lalu atau Bharada Eliezer ini cepat sekali prosesnya jadi prosesnya itu nggak nggak pakai tedeng aling-aling. Dia langsung bersimpuh di depan orang tuanya dan ya gitu cium kaki sungkem," imbuh Irma Hutabarat.
Baca Juga: Inter 4-0 Viktoria Plzen, Nerrazuri Melaju ke Fase Gugur LIGA CHAMPIONS, Barcelona Gigit Jari
Kehilangan anak tercinta tentunya menjadi duka mendalam bagi setiap orang tua. Sepanjang persidangan yang beragendakan pemeriksaan saksi tersebut momen memilukan kembali terjadi saat ibunda Brigadir J mencurahkan isi hatinya sebagai saksi persidangan Bharada E di PN Jakarta Selatan.
Sambil menangis terisak, yang mengungkapkan bahwa hingga detik ini pun kematian sang putra masih begitu membekas bagi dirinya dan keluarga.
Ya, ingatan saat pertama kali jenazah Brigadir J datang ke hadapan mereka. Kemudian melalui sejumlah proses yang berliku hingga akhirnya dikebumikan.
Baca Juga: Tak bisa ke Bali? Kunjungi saja Pantai Klayar di Pacitan Ini sejumlah keistimewaannya
"Jadi kami mohon ya agar arwah anak kami tenang, tolong berkata jujur. Tangisan ini sebagai ibu kamu juga punya ibu dan menginginkan agar proses hukum tetap berjalan," ucap Rosti Simanjuntak, ibu almarhum Brigadir J, sambil menangis.
Ditambahkan Rosti, Kalau Richard Eliezer atau Icat (Bharada E) menjalani proses sidang. Lalu nanti hukumannya diterima dengan besar hati tapi kan menjalaninya itu dengan langkah yang yakin enteng dan tidak ada beban. Karena dia memutuskanuntuk mengikuti nuraninya.
"Proses pidana kan tetap jalan, tapi kan kita punya batin. Manusia itu punya jiwa punya, mentalitas yang harus diselamatkan oleh diri sendiri," ungkapnya.
Baca Juga: Ini dia resep cara memasak pepes: yang nikmat banget disantap dengan nasi hangat
Luapan kesedihan berupa tangis histeris tak hanya dari ibunda Brigadir J namun juga keluarga lainnya yang turut hadir menjadi saksi. Mereka masih tak menyangka semua bisa terjadi. Hal itu tentu saja membuat Bharada E dengan wajah yang pilu tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah keluarga mendiang sang rekan.
"Kita selaku orang tua sangat terharu, mengingat kita yang membesarkan almarhum. Mulai dari kecil hingga di akhir hidupnya kita mengingat semua perjuangan kami orang tua. Apalagi kami boleh dibilang bukan orang berada. Inilah kesedihan yang kami rasa secara pribadi ataupun keluarga besar, sesudah dia berjuang untuk mendapatkan sarjananya
Sayalah yang menggantikan almarhum saat diwisuda,"ucap Samuel Hurabarat, ayah almarhum Brigadir J dengan sangat sedih.