Baca Juga: Eksotisme Batik Tua di Dalem Wuryaningratan, Solo
Setelah Kerajaan Mataram pecah dan seluruh ageman (busana) dibawa ke Yogyakarta, Kasunanan Surakarta menciptakan motif sendiri.
“Batik-batik hasil revolusi budaya itu yang sekarang ini menjadi ciri khas batik Surakarta,” lanjut Puger.
Pengamat batik Ronggojati Sugiyatno menyebut latar batik Surakarta dominan warna sogan.
Istilah sogan berasal dari nama pohon soga tingi yang digunakan sebagai pewarna alami batik.
"Sogan ini kombinasi warna coklat muda, coklat tua, coklat kemerahan. Itu ciri khas batik Surakarta dan Yogyakarta,” ungkap Sugiyatno.
Namun, lanjut Sugiyatno, sogan Yogyakarta dan Surakarta berbeda. Yogyakarta dominan coklat tua-kehitaman dan putih. Solo le bih ke warna coklat-oranye dan coklat.
Perbeaan dasar sogan Yogyakarta dan Surakarta adalah motifnya. Motif batik Surakarta yang tidak dimiliki Yogyakarta, antara lain Parang Kusumo, Sidoasih, Sidoluruh.
Kemudian Truntum, Kawung, dan Sekar Jagat. Motif-motif itu kemudian menginspirasi perkembangan batik modern.
Menurut Sugiyatno, motif batik Surakarta biasanya berhubungan dengan ritual pernikahan dan kehidupan rumah tangga.
Sampai saat ini, motif batik tertentu akan dikenakan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Berikut ini beberapa motif batik Solo:
Beberapa batik motif Surakarta yang terkenal antara lain Kawung, Sawat, dan Parang Rusak Barong. Motif ini biasa dikenakan oleh keluarga kerajaan.
Motif Soblog. Soblog artinya besar. Motif batik ini dipakai saat takziah. Motif Soblog bermakna agar orang yang meninggal mendapat tempat layak disisi Tuhan.
Motif Sido Mukti. Berasal dari kata 'sido' yang artinya menjadi, dan mukti yang bermakna 'makmur'. Jadi, harapannya pemakai batik motif ini akan menjadi makmur.
Motif Truntum. Motif ini umumnya dipakai orang tua dari pengantin. Kata turuntum artinya membimbing.