gaya-hidup

Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?

Senin, 27 Juli 2026 | 19:24 WIB

TITIKTEMU.CO-Ada satu alasan kenapa semakin banyak profesional urban mulai melirik kota lain: mereka tidak lagi mau menukar sebagian besar hidupnya dengan sekadar alamat kantor di Jakarta.

Selama ini, alasan paling gampang untuk menjelaskan orang pindah dari Jakarta adalah macet. Padahal, persoalannya jauh lebih dalam. Ketika pekerjaan sudah bisa dilakukan secara hybrid atau remote, pertanyaan yang muncul bukan lagi “kantorku di mana?”, melainkan “aku sebenarnya mau hidup seperti apa?”

Fenomena ini bahkan mulai terlihat dalam data kependudukan. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta melalui SUPAS 2025 mencatat migran risen yang keluar Jakarta lebih banyak daripada yang masuk, dengan neto migrasi -5,40 persen dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Tom Holland Sampai Bingung: Ternyata Adegan Gila di The Odyssey Bukan CGI!

Kenapa Anak Muda Pindah dari Jakarta? Biaya Hidup Jadi Pertimbangan

Bagi profesional muda, gaji besar di Jakarta tidak otomatis berarti punya kehidupan yang lebih lega. Harga tempat tinggal, makan, transportasi, hingga kebutuhan sosial bisa ikut menggerus penghasilan sebelum sempat berubah menjadi tabungan.

Di kota lain, sebagian pekerja bisa mendapatkan kompromi yang terasa lebih masuk akal: penghasilan tetap dari perusahaan nasional, tetapi biaya hidup tidak setinggi pusat metropolitan.

Inilah yang membuat konsep “income Jakarta, lifestyle kota lain” terdengar semakin menarik. Bukan berarti semua orang bisa begitu, tetapi bagi pekerja dengan sistem kerja fleksibel, lokasi tempat tinggal mulai kehilangan statusnya sebagai keputusan karier semata.

Baca Juga: Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan

Jakarta Terlalu Mahal untuk Sekadar Sibuk

Ada paradoks yang sering tidak dibicarakan. Jakarta menawarkan banyak peluang, tetapi kesempatan tersebut juga datang bersama harga yang harus dibayar: waktu.

Bayangkan seorang profesional menghabiskan waktu berjam-jam untuk perjalanan pulang-pergi. Setelah sampai rumah, energi untuk olahraga, memasak, bertemu teman, membaca buku, atau sekadar tidur lebih awal sudah habis di jalan.

Jadi, masalah sebenarnya bukan hanya macet. Waktu yang hilang jauh lebih mahal karena tidak bisa dibeli kembali.

Baca Juga: Harga Emas Pekan Depan Bisa Naik-Turun Tajam, Ini Level yang Wajib Diperhatikan

Halaman:

Tags

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB