TITIKTEMU.CO-Di tengah maraknya pembahasan tentang burnout, muncul istilah lain yang mulai mendapat perhatian para psikolog dan praktisi sumber daya manusia: boreout. Jika burnout terjadi karena tekanan kerja yang berlebihan, boreout justru muncul karena kebosanan kronis, kurangnya tantangan, dan minimnya makna dalam pekerjaan.
Fenomena ini semakin sering ditemukan di lingkungan kerja modern, terutama pada profesional muda yang bekerja di kantor, perusahaan teknologi, atau organisasi dengan sistem kerja yang sangat terstruktur. Ironisnya, kondisi ini sering luput dari perhatian karena penderitanya tampak "baik-baik saja".
Apa Itu Boreout?
Boreout adalah kondisi psikologis yang muncul ketika seseorang merasa bosan, tidak tertantang, dan kehilangan keterlibatan dalam pekerjaannya dalam jangka waktu lama. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh konsultan bisnis asal Swiss, Peter Werder dan Philippe Rothlin, dalam buku Diagnosis Boreout.
Baca Juga: Morning Routine Sejuta Followers Itu Bohong — Ini yang Sebenernya Berhasil
Berbeda dengan burnout yang membuat seseorang kewalahan akibat terlalu banyak pekerjaan, boreout justru muncul karena pekerjaan yang terlalu sedikit, monoton, atau tidak sesuai dengan potensi individu.
Seseorang yang mengalami boreout sering kali tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas tepat waktu, bahkan terlihat produktif. Namun secara mental, mereka merasa kosong dan kehilangan motivasi.
Mengapa Boreout Bisa Lebih Berbahaya?
Banyak orang menganggap kebosanan di tempat kerja sebagai hal sepele. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurangnya keterlibatan kerja dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental.
Baca Juga: 80% Beasiswa LPDP Kini untuk STEM, Jurusan Non-Teknik Harus Khawatir
Ketika seseorang terus-menerus merasa pekerjaannya tidak bermakna, otak kehilangan stimulasi yang dibutuhkan untuk merasa berkembang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu:
- Penurunan motivasi kerja
- Hilangnya rasa percaya diri
- Kecemasan dan stres berkepanjangan
- Gejala depresi
- Penurunan produktivitas
- Keinginan untuk resign secara mendadak
Yang membuat boreout berbahaya adalah gejalanya berkembang perlahan sehingga sering tidak disadari, baik oleh karyawan maupun perusahaan.
Baca Juga: 80% Beasiswa LPDP Kini untuk STEM, Jurusan Non-Teknik Harus Khawatir?
Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Boreout