Sebaliknya, makna hidup justru ditemukan dalam momen-momen sederhana yang sering kali terlewatkan begitu saja.
Baca Juga: Bayar Pakai QRIS Bikin Boros Tanpa Sadar — Ini Bukti Ilmiahnya
Menikmati secangkir kopi di pagi hari tanpa memegang ponsel adalah salah satu contoh kecil dari praktik ini.
Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga tanpa distraksi notifikasi kerjaan juga menjadi kemewahan baru.
Memutus Rantai FOMO demi Kesehatan Mental
Ketakutan akan tertinggal informasi atau tren yang dikenal sebagai FOMO perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi ini.
Baca Juga: Meletakkan Ponsel, Memeluk Insting: Seni Tenang Menjadi Ibu
Mereka menggantinya dengan JOMO, atau Joy of Missing Out, yaitu rasa damai saat tidak ikut-ikutan tren yang melelahkan.
Dengan mengurangi kecepatan, Gen Z bisa lebih selektif dalam memilih apa yang benar-benar penting untuk masa depan mereka.
Keputusan ini berdampak sangat positif terhadap penurunan tingkat stres dan kecemasan yang sering melanda usia muda.
Baca Juga: BCA Buka Pintu untuk Fresh Graduate: Ini Kesempatan Karier yang Sayang Dilewatkan
Mereka belajar untuk lebih menghargai proses proses bertumbuh daripada sekadar menuntut hasil yang instan.
Langkah ini juga membuat mereka lebih hemat karena konsumsi barang-barang yang tidak perlu bisa ditekan secara signifikan.
Pada akhirnya, slow living di Indonesia adalah tentang bagaimana kita mengambil kendali penuh atas waktu yang kita miliki.
Ini adalah seni untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan menghargai setiap detik yang berharga.