Jadi rasa kesepian dalam parenting tidak selalu datang dari status, tetapi dari minimnya dukungan nyata.
Baca Juga: Noel Ebenezer Ancam Gugat KPK Rp 300 Triliun, Publik Soroti Babak Baru Kasus K3
Tantangan terbesar solo parent urban biasanya ada tiga hal: waktu, uang, dan energi. Waktu habis untuk kerja dan urus rumah.
Uang harus dibagi sangat ketat. Energi terkuras karena hampir tidak ada jeda. Bahkan hal sederhana seperti sakit sebentar bisa menjadi krisis kecil.
Namun di tengah beratnya keadaan, banyak solo parent justru menunjukkan kekuatan luar biasa.
Mereka belajar multitasking, menjadi lebih tangguh, lebih peka, dan sangat kreatif mencari solusi.
Mereka tahu cara bertahan walau jarang dipuji.
Langkah pertama yang penting adalah berhenti merasa harus kuat sendirian. Meminta bantuan bukan tanda gagal.
Justru itu bentuk kecerdasan bertahan. Jika ada keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja yang bisa dipercaya, libatkan mereka saat perlu.
Kedua, bangun komunitas kecil. Tidak harus besar dan formal.
Bisa berupa grup orang tua sekolah, teman sesama single parent, atau dua tetangga yang saling bantu saat darurat. Dukungan kecil sering lebih berharga daripada nasihat panjang.
Baca Juga: Suka Project Hail Mary? Ini 5 Film Sci-Fi Luar Angkasa yang Bikin Otak dan Emosi Ikut Terbang
Ketiga, sederhanakan standar rumah tangga. Rumah tidak harus selalu rapi sempurna. Bekal tidak harus estetik setiap hari. Yang dibutuhkan anak paling utama adalah kehadiran, rasa aman, dan kasih sayang yang konsisten.
Keempat, kelola energi seperti aset penting. Pilih pertempuran yang perlu. Gunakan layanan antar jika memang membantu. Buat rutinitas sederhana agar keputusan harian tidak terlalu menguras pikiran.
Kelima, jangan abaikan kesehatan mental. Solo parent sering sibuk merawat semua orang sampai lupa dirinya sendiri.