Baca Juga: Film Horor Korea Salmokji Meledak di Box Office: Tembus 2 Juta Penonton dan Bangkitkan Tren Horor
Akhirnya, teknologi yang seharusnya membantu malah terasa seperti ancaman.
Bukan karena AI jahat, tetapi karena perubahan datang terlalu cepat dan menuntut adaptasi tanpa jeda.
Ada juga tekanan lain yang lebih halus.
Dengan AI, semua hal terasa harus serba cepat.
Balas email cepat. Buat presentasi cepat. Cari ide cepat.
Produktif setiap saat. Saat ritme hidup makin cepat, otak manusia belum tentu siap mengikutinya.
Kita hidup dalam dunia yang semakin efisien, tetapi belum tentu semakin tenang.
Media sosial ikut memperparah kondisi ini. Timeline penuh orang yang sukses memakai AI, membuka bisnis baru, produktif tiap hari, dan terlihat selalu unggul.
Banyak orang lalu membandingkan dirinya sendiri dan merasa tertinggal.
Padahal yang terlihat di layar sering hanya hasil akhir, bukan proses lelah di baliknya.
Kecemasan di era AI juga muncul dari rasa tidak pasti.
Banyak pekerjaan berubah. Skill lama terasa cepat usang. Masa depan terlihat kabur.
Saat manusia tidak tahu posisi dirinya dalam perubahan besar, stres mudah muncul.