TITIKTEMU.CO - Teknologi hadir untuk memudahkan hidup. AI membantu menulis, mencari ide, membuat desain, merangkum pekerjaan, hingga menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.
Banyak orang merasa hidup jadi lebih cepat dan efisien sejak teknologi cerdas masuk ke keseharian.
Namun di balik kemudahan itu, ada paradoks yang mulai terasa.
Semakin dekat dengan teknologi, banyak orang justru semakin cemas.
Mereka terbantu oleh AI, tetapi juga takut tertinggal, tergantikan, atau kehilangan kendali.
Baca Juga: Park Jihoon Rela Ikut Kursus Memasak Demi Totalitas Peran di Drakor The Legend of Kitchen Soldier
Fenomena ini paling kuat dirasakan Gen Z dan Millennial.
Generasi yang tumbuh bersama internet justru melaporkan tingkat kecemasan dan tekanan mental lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Menariknya, di saat yang sama mereka juga paling aktif berinvestasi pada wellness, self-care, terapi, dan kesehatan mental.
Artinya jelas, generasi digital sangat peduli pada kesehatan mental, tetapi tetap hidup di lingkungan yang terus memicu tekanan baru.
AI menjadi contoh paling nyata.
Banyak pekerja merasa harus belajar AI agar tidak kalah saing.
Mahasiswa merasa harus memakai AI agar tugas lebih cepat selesai.
Freelancer takut klien pindah ke otomatisasi. Kreator khawatir karya manusia kalah oleh mesin.