gaya-hidup

Strawberry Parenting Versi Indonesia: Bukan Memanjakan, Tapi Cara Baru Mendidik Anak Lebih Kuat

Kamis, 30 April 2026 | 21:14 WIB
Ilustrasi Strawberry parenting bukan memanjakan (Desain AI)

Pola lama mungkin langsung memarahi atau menyuruh diam.

Strawberry parenting mencoba memahami dulu.

Anak dibantu menamai perasaannya, lalu diarahkan mencari solusi.

Kalimat sederhana seperti, “Kamu kesal karena mainanmu diambil ya?” bisa sangat berarti. Anak merasa dimengerti. Setelah itu baru diajarkan cara bereaksi yang tepat.

Cara ini membantu anak belajar bahwa marah itu wajar, tetapi melukai orang lain tidak benar.

Sedih itu normal, tetapi tetap perlu bangkit. Takut itu manusiawi, tetapi bisa dihadapi perlahan.

Banyak orang tua muda memilih pendekatan ini karena sadar dunia anak sekarang berbeda.

Tekanan sekolah lebih tinggi, paparan digital lebih cepat, dan tantangan sosial lebih rumit.

Anak bukan hanya butuh pintar akademik, tetapi juga kuat secara mental.

Sayangnya, orang tua yang menerapkan pola asuh lembut sering dianggap terlalu memanjakan.

Baca Juga: Ironi Era Digital: Aplikasi Wellness Semakin Banyak, Tapi Rasa Sepi Justru Meningkat

Padahal bersikap tenang bukan berarti lemah. Mendengarkan anak bukan berarti kalah. Menjelaskan aturan dengan sabar bukan berarti tidak tegas.

Justru dibutuhkan kesabaran besar untuk tidak membentak saat lelah. Dibutuhkan kedewasaan untuk mendidik tanpa melukai. Itu bukan kelembekan, tetapi kekuatan.

Tentu strawberry parenting juga perlu keseimbangan.

Jika hanya empati tanpa batasan, anak bisa bingung. Jika hanya lembut tanpa aturan, anak sulit belajar tanggung jawab. Karena itu, kasih sayang harus berjalan bersama konsistensi.

Halaman:

Tags

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB