TITIKTEMU.CO - Istilah strawberry parenting sering terdengar negatif. Banyak orang menganggap pola asuh ini membuat anak lembek, mudah menyerah, dan terlalu dimanja.
Tidak sedikit orang tua muda yang dikritik keluarga besar hanya karena dianggap terlalu lembut saat mendidik anak.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Strawberry parenting versi baru justru mulai dipahami sebagai pendekatan yang fokus pada kekuatan emosi anak.
Bukan memanjakan, tetapi mendampingi anak agar mengenal perasaan, memahami diri, dan tahu cara merespons masalah dengan sehat.
Baca Juga: Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal: Kini Jadi Klinik Longevity untuk Hidup Lebih Panjang dan Sehat
Di Indonesia, pola asuh lama sering identik dengan kalimat keras seperti “jangan nangis”, “turuti saja”, atau “anak kecil jangan banyak bicara”. Tujuannya mungkin baik, yaitu mendisiplinkan anak.
Namun kadang anak tumbuh tanpa ruang memahami emosinya sendiri.
Akibatnya, banyak orang dewasa sulit mengelola marah, cemas, kecewa, atau takut.
Mereka diajarkan patuh, tetapi tidak diajarkan memahami isi hati. Di sinilah strawberry parenting mulai terasa relevan bagi keluarga masa kini.
Pendekatan ini tidak berarti semua keinginan anak harus dituruti.
Anak tetap perlu aturan, batasan, dan tanggung jawab. Bedanya, orang tua tidak hanya fokus pada perilaku luar, tetapi juga akar emosinya.
Baca Juga: Suka Project Hail Mary? Ini 5 Film Sci-Fi Luar Angkasa yang Bikin Otak dan Emosi Ikut Terbang
Contohnya saat anak tantrum karena mainannya diambil.