Setiap hari, kita terpapar ratusan bahkan ribuan konten—kesuksesan orang lain, gaya hidup ideal, standar kecantikan, hingga opini yang saling bertabrakan.
Otak kita tidak dirancang untuk memproses sebanyak itu.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan highlight hidup orang lain.
Ini menciptakan tekanan internal: merasa tertinggal, kurang, atau tidak cukup baik.
Kecemasan pun muncul, bukan karena realitas kita buruk—tapi karena standar yang kita konsumsi terlalu tinggi dan tidak realistis.
Selalu “On”, Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat
Dulu, ada batas jelas antara kerja, sosial, dan istirahat. Sekarang, semuanya bercampur dalam satu layar.
Baca Juga: UU PPRT Resmi Berlaku: Upah, Jam Kerja, hingga Hak Ibadah Pekerja Rumah Tangga Kini Diatur Negara
Notifikasi tidak pernah berhenti. Bahkan saat kita beristirahat, pikiran tetap “siaga”.
Kondisi ini membuat sistem saraf terus aktif, seolah kita selalu dalam mode “harus merespons”. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu kelelahan mental kronis.
Ironisnya, teknologi yang seharusnya mempermudah hidup justru membuat kita sulit benar-benar berhenti.
Kesadaran Tinggi, Tapi Dukungan Tidak Selalu Cukup
Ada satu sisi positif: generasi sekarang jauh lebih sadar akan kesehatan mental.
Kita lebih terbuka membicarakan kecemasan, burnout, dan terapi.
Namun, kesadaran ini tidak selalu diikuti dengan akses atau keterampilan untuk mengelolanya.