Bagi siapa pun yang butuh hidup berdampingan dengan alam, Sukabumi terasa seperti “basecamp kehidupan”.
Kamu bisa bekerja remote di pagi hari, lalu trekking tipis ke Curug Sawer sore harinya.
Kehidupan di sini tidak dipisahkan antara bekerja dan menikmati hidup — keduanya berjalan berdampingan.
Baca Juga: Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Biaya Hidup: Wajar dan Waras
Sisi menarik lain dari Sukabumi adalah biaya hidupnya yang ramah dompet.
Kamu masih bisa menemukan kontrakan satu rumah kecil di pinggiran kota mulai 900 ribu – 1,5 juta per bulan.
Makan di warung? Rp12.000 – Rp18.000 sudah dapat seporsi ayam nasi lengkap. Mau belanja sayur mingguan?
Cukup ke pasar pagi, dengan 50 ribu kamu bisa pulang dengan tiga kantong besar.
Jika kamu mencari hidup sustainable tanpa jadi budak cicilan, Sukabumi memberi ruang untuk itu.
Tetap Terhubung ke Jakarta
Banyak orang takut pindah jauh karena memutus akses kerja.
Sukabumi tidak seperti itu. Kota ini masih masuk wilayah commuting ke Jakarta.
Pilihan transportasinya mulai dari bus, travel, sampai kereta Pangrango. Ditambah dengan Tol Bocimi, akses makin nyaman.
Kamu bisa tinggal di Sukabumi tapi tetap bekerja secara hybrid di Jakarta — ini bukan cuma wacana, banyak warga sudah melakukannya.