Lingkungan yang damai dan warganya sangat menjaga ketertiban membuat suasana kota ini sangat kondusif. Di banyak wilayah, anak-anak bahkan dilarang bermain petasan agar tidak mengganggu ketenangan.
Bagi kaum introvert atau mereka yang ingin slow living, Purworejo adalah surga kecil. Tak ada kebisingan lalu lintas di malam hari, tak ada hiruk pikuk hiburan malam,. Sebagai gantinya adalah suara jangkrik di kejauhan.
Selepas Isya, Kota Ini Seakan Tertidur
Ada satu fenomena khas yang hanya bisa fitemukan di Purworejo, di mana kota ini seolah menghentikan kehidupannya setelah adzan Isya. Sekitar pukul 19.00 WIB, sebagian besar aktivitas warga selesai.
Toko-toko tutup, jalanan lengang, dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar rumah. Tidak ada kuliner malam. Lampu jalan tetap menyala, tapi hanya untuk menemani perjalanan malam di Purworejo.
“Di sini malam ya buat tidur. Kecuali malam Minggu, baru agak ramai,” kata seorang warga lokal.
Baca Juga: Suasana Pagi Seperti Tak Pernah Usai di Desa Ini...
Budaya Malam yang Nyaris Tidak Ada
Kehidupan malam di Purworejo bukan sekadar sepi, tapi hampir tidak eksis. Nongkrong di kafe, duduk di angkringan, atau sekadar jalan-jalan malam bukan hal yang lumrah di sini.
Bahkan, bagi sebagian warga, keluar malam tanpa alasan jelas bisa menimbulkan prasangka negatif. Mereka yang sering terlihat di luar rumah selepas Isya bisa dianggap tidak beres.
Budaya ini membuat malam di Purworejo identik dengan waktu untuk istirahat total. Nah, kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi mereka yang memiliki jam kerja malam.
Pasalnya, tidak banyak tempat seperti co-working space, kafe, apalagi angkringan yang buka hingga larut malam.
Baca Juga: Di Desa Nglanggeran, Siapa Pun yang Datang Merasa Seperti Pulang ke Rumah Sendiri
Memberi Kesempatan Warga untuk Istirahat
Bagi sebagian orang, suasana sunyi dan minim aktivitas malam di Purworejo mungkin terasa membosankan. Tapi bagi yang lain, justru di situlah letak keindahannya.