TITIKTEMU.CO - Kamu pernah nggak merasa lelah karena harus terus terlihat baik-baik saja?
Seperti hidup menuntut kamu untuk selalu semangat, selalu bersyukur, selalu positif—padahal di dalam hati kamu sedang capek, kecewa, bahkan ingin menyerah.
Di sinilah toxic positivity sering muncul.
Bukan dari niat jahat, tapi dari kebiasaan menutupi emosi dengan kalimat manis seperti “jangan sedih”, “harus kuat”, atau “pasti ada hikmahnya” sebelum kita benar-benar sempat merasakan dan memahami apa yang terjadi.
Padahal, self improvement yang sehat bukan tentang memaksa diri bahagia setiap saat.
Tapi tentang bertumbuh dengan cara yang realistis, manusiawi, dan tetap punya ruang untuk jatuh tanpa merasa gagal.
Baca Juga: Kota Tua Mendadak Jadi Hollywood Mini, Lisa BLACKPINK Syuting Extraction: Tygo, Jalan Ditutup!
Apa Itu Toxic Positivity dan Kenapa Bisa Melelahkan?
Toxic positivity adalah kondisi ketika kita memaksa diri untuk selalu berpikir positif, sampai-sampai menolak emosi negatif yang sebenarnya normal.
Contohnya:
kamu sedih, tapi dipaksa “jangan nangis, harus kuat”
kamu gagal, tapi dibilang “jangan mikir negatif, tetap senyum”
kamu capek, tapi merasa bersalah karena tidak produktif
Masalahnya, emosi yang ditekan tidak hilang. Ia hanya menumpuk. Dan saat menumpuk, biasanya ia keluar dalam bentuk yang lebih berat: overthinking, burnout, mudah marah, atau merasa kosong.
Artikel Terkait
Bukan Cuma Viral, Ini Monster Netflix: K-Pop Demon Hunters Meledak Lagi Usai Nominasi Oscar 2026
Tips Menabung ala Gen Z: Gaji Kecil Tapi Tetap Bisa Punya Tabungan
Cara Mengatur Uang Bulanan untuk Gen Z: Budgeting Simpel yang Beneran Works
Cara Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Drama: Panduan Praktis dan Lembut
61 Hari Setelah Banjir, Air Bersih Masih Jadi Barang Mewah Warga Aceh Tengah
Harga Bitcoin Turun di Bawah USD90.000 Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Analisis Indodax
Airlangga Tegaskan Reformasi Pasar Modal Arahan Presiden Prabowo, Free Float dan Demutualisasi Dikebut
Mensesneg Tegaskan Mundurnya Dirut BEI Iman Rachman Bukan Intervensi Pemerintah
Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI, Bursa Segera Tunjuk Plt hingga RUPST
Salim A Fillah Ingatkan Sumatera Masih Berjuang Pascabencana, Pendidikan Anak Jadi Prioritas