Memasuki abad ke-19 dan ke-20, resolusi Tahun Baru mulai kehilangan nuansa religiusnya dan menjadi lebih sekuler. Media massa turut membentuk cara pandang masyarakat terhadap resolusi.
Surat kabar lama menunjukkan bahwa tema resolusi dari masa ke masa relatif sama: berhenti dari kebiasaan buruk dan menjadi versi diri yang lebih baik.
Menariknya, gagasan bahwa resolusi sering gagal ternyata sudah disadari sejak lama. Artikel surat kabar pada awal abad ke-20 bahkan menyoroti skeptisisme para psikolog terhadap efektivitas resolusi Tahun Baru.
Kritik ini tetap relevan hingga kini, ketika banyak survei menunjukkan hanya sebagian kecil orang yang konsisten menjalankan resolusinya.
Meski sering berujung gagal, resolusi Tahun Baru tetap dibuat setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa resolusi bukan sekadar soal hasil, melainkan simbol harapan.
Sejak Babilonia kuno hingga masyarakat modern, manusia selalu membutuhkan momen khusus untuk jeda sejenak, menilai diri, dan percaya bahwa perubahan selalu mungkin dimulai dari sebuah awal yang baru.***
Artikel Terkait
Malam Tahun Baru 2026, Pemprov DKI Tutup 33 Ruas Jalan Jakarta Mulai Pukul 18.00 WIB, Simak Daftarnya di Sini!
Menulis Harapan di Lembaran Baru: Inspirasi Ucapan Selamat Tahun Baru 2026 yang Menggetarkan Hati
Sambut Tahun Baru 2026, Pemprov DKI Gratiskan TransJakarta, MRT, dan LRT
55 Resolusi Tahun Baru 2026 yang Realistis dan Mudah Dicapai, Bangun Semangat dari Hal Sederhana
Refleksi Tahun Baru: Menata Masa Depan dengan Takwa dan Muhasabah
25 Lagu Tahun Baru 2026 yang Wajib Masuk Playlist, Bikin Malam Pergantian Tahun Makin Meriah