Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 13:15 WIB
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya.  (Unplash)
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya. (Unplash)

Baca Juga: Daerah Terbaik Slow Living di Jawa Tengah, Solo, Salatiga, Magelang atau Purwokerto?

2. Penuh Nuansa Sejarah dan Keindahan Arsitektur

Selain sejuk dan tenang, Salatiga juga kaya akan sejarah. Kota ini termasuk salah satu yang tertua di Indonesia, bahkan disebut lebih tua dari banyak kota besar lain di Jawa.

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun warga lokal.

Beberapa landmark bersejarah yang masih bisa kamu temukan di sini antara lain Gedung Papak, Hotel Pension van Blommestein, Pendapa Pakuwon, hingga Rumah Dinas Wali Kota Salatiga.

Jalan-jalan di sekitar kota ini memberikan pengalaman unik, seolah membawa kita kembali ke masa lalu sambil tetap menikmati udara segar khas pegunungan.

Menariknya lagi, kita bisa menjelajahi berbagai bangunan bersejarah itu tanpa rasa gerah atau macet seperti di kota besar. Bahkan, banyak warga lokal yang lebih memilih naik becak atau berjalan kaki untuk menikmati suasana kota.

Baca Juga: 10 Kota Slow Living di Indonesia yang Cocok untuk Menenangkan Diri

3. Ritme Hidup yang Pelan dan Ramah

Kalau kamu pernah merasa lelah dengan ritme hidup yang cepat di Jakarta, Bandung, atau Surabaya, Salatiga bisa jadi tempat penyembuhan mental.

Di sini, masyarakatnya dikenal ramah, santai, dan tidak terburu-buru. Kita bisa melihatnya dari cara orang berkendara yang jarang membunyikan klakson atau marah di jalan.

Bahkan ketika macet pun, warga cenderung menunggu dengan sabar sambil ngobrol santai. Ritme hidup yang pelan ini membuat stres berkurang, kesehatan mental meningkat, dan waktu terasa lebih bermakna.

Tak hanya itu, kota ini juga aman. Kasus kejahatan jalanan relatif jarang, dan sebagian besar masalah sosial bisa diselesaikan secara kekeluargaan di tingkat warga.

Baca Juga: Dari Burnout ke Bliss: Rahasia Slow Living yang Diam-Diam Mengubah Cara Kita Bekerja dan Hidup

4. Biaya Hidup Masih Terjangkau

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Lirik Yalal Waton Latin, Arab, Arti, dan Penciptanya

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:24 WIB
X