TITIKTEMU.CO - Kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif seperti diskon listrik dan Bantuan Subsidi Upah (BSU) memang bertujuan membantu masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Namun, kalangan buruh merasa program ini masih jauh dari cukup.
Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia, menyambut baik niat pemerintah tersebut.
Tetapi, ia menekankan bahwa bantuan dua bulan sangat singkat dan tidak akan banyak membantu dalam situasi ekonomi yang menantang seperti sekarang.
Diskon Tol Dinilai Tidak Menyentuh Kebutuhan Pokok
Salah satu kebijakan yang dipertanyakan efektivitasnya adalah diskon tarif tol.
Menurut Mirah, saat ini banyak kelompok kelas menengah yang mulai rentan jatuh ke kelompok miskin, sehingga insentif seperti ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.
Diskon Listrik Diharapkan Berlaku Sampai Akhir Tahun
Program diskon listrik dinilai positif, namun waktu pelaksanaannya hanya dua bulan dirasa sangat terbatas.
"Kalau bisa jangan cuma dua bulan. Kami minta diskon listrik ini diperpanjang sampai Desember 2025," kata Mirah.
Baca Juga: Kabar Baik! Kemenag Beri Bantuan Insentif untuk Dosen Ma’had Aly, Segera Lengkapi Persyaratan
BSU 2025 Dinilai Lebih Kecil Dibanding Tahun Sebelumnya
Buruh juga mengkritisi besarnya BSU yang hanya Rp150 ribu per bulan, ditujukan bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp3,5 juta. J