Inflasi Berbasis PCE
Di sisi lain, inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) inti justru menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
Angka inflasi tahunan PCE inti naik ke 3 persen, masih jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral AS. Kondisi ini memperkuat ekspektasi Federal Reserve atau The Fed akan menahan suku bunga
Bagi rupiah, kombinasi perlambatan ekonomi AS dan sikap hati-hati The Fed menciptakan dinamika tersendiri. Di satu sisi, pelemahan ekonomi AS bisa menekan dolar.
Namun di sisi lain, suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama berpotensi menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS.
Bagaimana Prediksi Rupiah 24 Februari 2026?
Pengamat pasar menilai, untuk perdagangan Selasa 24 Februari, rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways.
Sentimen global terkait tarif dan arah kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor dominan. Di dalam negeri, stabilitas inflasi dan komitmen Bank Indonesia menjaga likuiditas menjadi penopang utama.
Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Investor disarankan mencermati perkembangan negosiasi dagang global serta rilis data ekonomi lanjutan dari AS.
Penguatan rupiah di awal pekan menjadi angin segar. Namun, selama ketidakpastian global masih tinggi, volatilitas pasar valuta asing diprediksi tetap mewarnai pergerakan nilai tukar.***
Artikel Terkait
Motorola Moto Razr 60 Dijual Mulai 25 Februari di Indonesia, Harga Rp11,9 Juta
4 HP Baru Januari-Februari 2026 di Indonesia, Harga Rp8 Juta-Rp20 Juta
Nasib Investor Emas Antam: Spread Rp219.000 per Gram, Kapan Mulai Cuan?
Ancam Industri Otomotif Lokal, Kadin Minta Presiden Prabowo Batalkan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India
Update Harga Emas Antam 23 Februari 2026 Naik Rp16.000, Tembus Rp3.028.000 per Gram