Deutsche Bank: US$4.950 per ons (naik 14%)
Goldman Sachs: US$4.900 per ons (naik 12%)
Morgan Stanley: US$4.800 per ons (naik 10%)
Standard Chartered: US$4.800 per ons (naik 10%)
Wells Fargo: US$4.500–US$4.700 per ons (naik 3–8%)
Prediksi tersebut menunjukkan satu benang merah: mayoritas analis masih melihat potensi kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih! 7 Aplikasi Investasi Emas Legal Berizin OJK dan Bappebti
Harga Emas Naik Turun, Saatnya Beli atau Jual?
Meski prospeknya terlihat cerah, investor tetap perlu mencermati volatilitas harga emas. Koreksi tajam setelah mencetak ATH menunjukkan bahwa emas juga bisa bergerak agresif dalam waktu singkat.
Bagi investor jangka panjang, fluktuasi harga justru sering dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi. Emas dinilai cocok sebagai instrumen lindung nilai dan penyeimbang portofolio, terutama saat pasar saham bergejolak.
Namun bagi trader jangka pendek, pergerakan emas yang cepat menuntut strategi dan manajemen risiko yang matang. Tanpa perhitungan, potensi “full senyum” bisa berubah menjadi “gigit jari”.***
Artikel Terkait
Harga Emas Dunia Melonjak ke Level Tertinggi Sepekan, Ketegangan AS–Venezuela Jadi Pemicu
Modal Kecil Bisa Untung Besar, Ini 5 Cara Investasi Emas yang Perlu Dicoba
Cicil Emas Antam di Pegadaian Mulai Rp100 Ribuan, Begini Simulasi dan Caranya
Nyaris Rp 1.000 Triliun Berputar di Tambang Emas Ilegal: PPATK Bongkar Jejak Uangnya hingga ke Luar Negeri