Batik Siger Terus Berkembang Bersama Pemberdayaan Rumah BUMN BRI, Upaya Lestarikan Budaya Lokal

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Senin, 1 Desember 2025 | 09:33 WIB
Laila Al Khusna pendiri Batik Siger, berkembang dengan Rumah BUMN BRI (BRI/TitikTemu)
Laila Al Khusna pendiri Batik Siger, berkembang dengan Rumah BUMN BRI (BRI/TitikTemu)

TITIKTEMU.CO, Lampung - Batik dengan motif Siger merupakan batik lokal khas Lampung. 

Di sebuah rumah batik di sudut Kota Bandar Lampung, tangan-tangan kreatif para pengrajin tampak sibuk memainkan canting di atas selembar kain. 

Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Darurat Jembatan: Langkah Cepat Negara Menyelamatkan Akses Pendidikan Anak Pedalaman

Dibalik berkembangnya batik Siger ada perempuan hebat yang menjadi sosok nyata cerminan perempuan berdaya masa kini. 

Ia adalah Laila Al Khusna pendiri Batik Siger yang telah lebih dari satu dekade menenun semangat pemberdayaan dan pelestarian budaya lokal. 

Laila Al Khusna berasal dari keluarga pengusaha batik asal Sukoharjo, Jawa Tengah, dari keluarga ini turut memupuk kecintaannya terhadap wastra nusantara. 

Baca Juga: Program CSR BRI Raih Pengakuan Global Lewat Dua Penghargaan Internasional

Ketika UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2009, semangatnya semakin berkobar. Apalagi, pemerintah daerah menyerukan agar setiap provinsi memiliki batik khas sebagai pakaian wajib ASN dan BUMN.

“Saya melihat peluang itu. Tapi saat itu, tidak ada pembatik di Lampung karena mayoritas berasal dari Jawa,” ujarnya.

Bermodal ilmu yang diwariskan orang tuanya, Laila mendirikan Batik Siger pada tanggal 22 Januari 2008 dimulai dari program LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan). 

Baca Juga: Peringatan Kemenkes: Ancaman Penyakit Pascabanjir Mengintai, Posko dan RS Darurat Sudah Disiagakan di Sumatra

Dari situlah cikal bakal Batik Siger lahir dan tumbuh menjadi salah satu ikon budaya Lampung. Ia ingin batik Lampung dikerjakan oleh tangan-tangan masyarakat Lampung sendiri.

Laila mengaku bahwa perjalanan awal tidak mudah. Pada awalnya, ia sulit mencari peserta karena sudah mendatangi RT, kelurahan, dan kumpulan ibu-ibu arisan, tetapi tidak ada yang mau hingga akhirnya ada yang berminat. 

“Motivasi utama saya adalah agar ilmu orang tua bermanfaat bagi masyarakat, terutama di Lampung, dan dapat mengangkat martabat daerah,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ipiek Riyanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X