Baca Juga: Pelepasliaran Bokkoi, Beruk Mentawai yang Doyan Kepiting
Udik-udik yaitu prosesi menyebar uang dan bunga ke masyarakat.
Hendro mengatakan dalam prosesi kirab dengan tapa mbisu, dengan maksud manusia selalu berhubungan dengan bumi dan berbakti kepada Tuhan yang Maha Kuasa dalam keadaan suci. Peserta kirab juga diwajibkan memakai pakaian Jawi jangkep.
“Kita kembalikan ke kitohnya lah, kirab pusaka dulu begitu. Jadi situasinya betul-betul hening, betul-betul sakral. Karena ini berdoa, semua yang terlibat begitu. Kirabnya mengintari Mangkunegaran dengan tapa bisu”.
Hendro menjelaskan, dengan tapa bisu memohon kepada Tuhan yang maha esa supaya negara diberi kesejahteraan, keamanan, dan permintaan doa yang baik bagi masyarakat khususnya bangsa Indonesia. Tentram lahir batin, gemah Ripah loh jinawi, khususnya juga Mangkunegaran.
Setelah pelaksanaan kirab pusaka dalem, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi semedi di Pendapa Agung dan Paringgitan Pura Mangkunegaran hingga Sabtu (30/7) dini hari.***