“Pengumuman. Untuk menyambut tahun jawa : Ehe 1956, Setu Pahing 30 Juli 2022. Panitia tidak mengadakan Lampah Budaya Mubeng Beteng,” bunyi tulisan di spanduk pengumuman yang dipasang di pagar Alun-alun Utara.
Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng biasanya dilaksanakan untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro dalam penanggalan jawa.
Baca Juga: Mantan Pentolan FPI Munarman Diganjar Hukuman Tambahan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta
Sebelum pandemi, ritual Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng Kraton Jogjakarta dimulai dari Kagungan Dalem Pelataran Keben mulai pukul 20.00 WIB.
Para abdi dalem yang akan mengikuti ritual ini harus mengenakan pakaian peranakan berupa kain/jarik wiron engkol dan tidak mengenakan sandal juga tidak membawa keris.
Dalam melaksanakan prosesi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, peserta tidak boleh berbicara satu samalain selama perjalanan. Proses ini mengandung arti sebagai bentuk refleksi diri dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Buronan KPK Mardani Maming Menyerahkan Diri ke Gedung Merah Putih
Rute yang dilewati dimulai dari pelataran Keben menuju Jl. Rotowijayan, Jl. Kauman, Agus Salim, Jl. Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, Jl. MT Haryono.
Kemudian lewat depan Plengkung Gading ke timur hingga Pojok Beteng Wetan. Selanjutnya ke arah utara Jl. Brigjen Katamso, Ibu Ruswo dan berakhir di Alun-alun Utara. Total jarak tempuh sekitar 5 kilometer.***