TITIKTEMU.CO JEMBER - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengadiri Safari Ramadhan dengan melakukan shalat tarawih di Masjid Jami' Al Baitul Amien Kabupaten Jember, Sabtu 8 April 2023 malam.
Setelah tarwih, Gubernur Khofifah agenda dilanjutkan dengan ziarah makam Habib Sholeh Tanggul.
Baca Juga: Pemerintah gelar sayembara logo IKN, hadiahnya 10 unit motor listrik dari BNI!
"Dalam setiap rangkaian safari ramadhan, selalu kita rangkai dengan santunan anak yatim yang dilakukan bersama Baznas. Secara keseluruhan, kegiatan ini adalah bentuk untuk memahami dan menjalankan kesalehan sosial," ujarnya.
Khofifah juga berkesempatan berkeliling untuk menikmati indahnya arsitektur Masjid Jami' Jember yang lekat dengan warna putih dan emas ini.
Baca Juga: Lulus Pascasanggah PPPK 2022. Guru harus cermat isi DRH, Simak langkah-langkahnya
Tak ada catatan resmi soal tanggal berdirinya masjid tersebut. Dokumen pemerintah Belanda hanya menyebutkan bangunan masjid itu berdiri di atas tanah eigendom verpoding nomor 981 tertanggal 19 Desember 1894, dengan luas 2.760 meter persegi. Sebuah catatan milik takmir menyebutkan, masjid lama pernah sekali direnovasi pada 1939.
Selain menjadi pusat peribadatan masyarakat muslim di Jember, masjid ini juga merupakan lanskap bersejarah. Tidak hanya karena usianya yang tua, namun juga karena ada kisah partisipasi rakyat di sana.
Dikutip dari buku Wakil Rakyat Kabupaten Jember Tempo Doeloe dan Sekarang, Soewarno Soetopamekas saat menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong Jember 1958-1960, mengambil inisiatif untuk merenovasi masjid tersebut dengan botol. Rakyat menyambut ajakan Soewarno.
Baca Juga: Siapkan Ini Saat Isi Daftar Riwayat Hidup (DRH) Setelah Lulus Pascasanggah PPPK Guru 2022
Mereka membawa botol-botol bekas ke alun-alun untuk dijual. Gerakan partisipasi rakyat itu kembali terulang pada masa pemerintahan Bupati Abdul Hadi pada 1973-1978. Saat itu Pemerintah Kabupaten Jember membangun sebuah masjid baru di sisi utara seberang masjid tua, di Jalan Raya Sultan Agung.
Masjid baru ini dirancang Yaying K. Kesser, alumnus perguruan tinggi di California, Amerika Serikat. Berbeda dengan masjid tua, masjid baru ini dibangun dengan bentuk bangunan yang mirip gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Jakarta. Bangunan masjid berbentuk kubah dengan satu menara.
Pembangunan masjid baru tentu membutuhkan biaya besar. Rakyat kembali berpartisipasi dengan menyumbangkan 11 ribu ton gabah hasil panen, sehingga terkumpul uang Rp 518 juta. Masjid baru ini kemudian diresmikan pada 3 Mei 1976.