Perawatan di Rumah Sakit dan Akhir Perjalanan Hidup
Setelah turun gunung, Mbok Yem dirawat di RSUD Ponorogo, lalu dipindahkan ke RSI Aisyiyah Ponorogo akibat komplikasi penyakit pneumonia.
Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan, kondisi beliau kembali memburuk hingga akhirnya dinyatakan wafat pada pukul 15.30 WIB.
Jenazah Mbok Yem disemayamkan di rumah duka, Dusun Dagung, Desa Gonggang, Magetan. Pemakaman direncanakan di Tempat Pemakaman Umum desa setempat.
Baca Juga: 7 Glamping di Tawangmangu, Camping Seru di Lereng Gunung Lawu
Awal Mula Warung Mbok Yem di Puncak Lawu
Warung legendaris yang dibangun oleh Mbok Yem tak langsung berdiri seperti sekarang. Pada awal 1980-an, beliau hanyalah seorang pedagang sembako di kampung.
Aktivitas naik gunungnya bermula dari mencari rempah dan bahan jamu di hutan Lawu.
Dari kebiasaan itu, ia mulai membangun sebuah pondok kecil yang lambat laun berkembang menjadi warung sederhana yang kini dikenal oleh para pendaki.
Baca Juga: Lebaran Betawi 2025, kuliner Betawi gratis, acara budaya Jakarta, perayaan Monas, lima abad Jakarta
Warung ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan juga ruang istirahat yang penuh kehangatan.
Nasi hangat, teh manis, mie instan, dan senyuman tulus dari Mbok Yem telah menjadi penyemangat para pendaki di tengah dinginnya udara Lawu.
Lebih dari Sekadar Penjual, Simbol Kehangatan dan Semangat
Bagi banyak pendaki, Mbok Yem adalah lebih dari sekadar penjaga warung. Beliau adalah simbol kehangatan, dedikasi, dan semangat.
Baca Juga: Kesempatan Emas! Beasiswa Inagro Muda 2025 untuk Perempuan SMP-SMA dan Mahasiswa, Daftar Sekarang!