Malam 1 Suro, Ribuan Warga Tapa Bisu Mubeng Beteng Kraton Jogja

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Jumat, 27 Juni 2025 | 08:54 WIB
Prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta, 1 Muharram 1447 Hijriah atau 1 Sura Dal 1959 pada Jumat dini hari (27/6/2025). (Humas Jogja)
Prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta, 1 Muharram 1447 Hijriah atau 1 Sura Dal 1959 pada Jumat dini hari (27/6/2025). (Humas Jogja)

TITIKTEMU.CO, Yogyakarta - Ribuan warga masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya mengikuti prosesi Mubeng Beteng Kraton Jogja bersama para Abdi Dalem menyambut pergantian tahun 1 Muharram 1447 Hijriah atau 1 Sura Dal 1959 pada Jumat dini hari (27/6/2025).

Prosesi yang dikemas dengan nama Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan melantunkan tembang Macapat (puisi Jawa) berisi doa dan pujian kepada sang Pencipta.

Baca Juga: Dasco Imbau WNI di Wilayah Konflik Perang Israel-Iran Tetap Tenang, Evakuasi Dilakukan Bertahap

Dipimpin oleh abdi dalem keraton K.M.T. Projosuwasono, lantunan puji-pujian tembang Macapat berlangsung di Bangsal Pancaniti, Kompleks Kamandungan Lor, Keraton Yogyakarta, pada Kamis (26/06/2025) malam. 

Setelah tengah malam lonceng berbunyi sebanyak 12 kali, prosesi Mubeng Beteng dengan berjalan kaki dimulai menempuh jarah sejauh kurang lebih 5 kilometer.

Baca Juga: BRI Kembali Cetak Prestasi Global, Masuk Daftar Fortune Southeast Asia 500 Peringkat Pertama Institusi Keuangan di Indonesia

Masyarakat dan para Abdi Dalem akan mengelilingi Kraton dengan rute dimulai dari Keben Keraton menuju Jalan Retowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, dan Jalan Wahid Hasyim, hingga tiba di Pojok Beteng Kulon.

Rombongan kemudian belok kiri ke Jalan Mayjen M.T. Haryono, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, melewati Alun-Alun Utara, dan kembali ke Keben Keraton. 

Baca Juga: Presiden Iran Bantah Produksi Nuklir untuk Senjata: Kami Tak Ingin Senjata Pemusnah Massal

Mubeng Beteng Tapa Bisu

Selama prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng, peserta diminta menjaga suasana khidmat dengan tidak berbicara atau biasa disebut "tapa bisu".

Makna dari tapa bisa sebagai refleksi diri terhadap perjalanan pada tahun sebelumnya dan menuju perjalanan berikutnya. 

Baca Juga: Candaan Prabowo ke Bahlil: Nasib Baik Kau Jadi Menteri...

“Sebetulnya bukan berarti bisu. Kita hanya tidak bercakap-cakap, tetapi berdoa dalam hati," tutur Projosuwasono.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ipiek Riyanto

Sumber: Humas Jogja

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X