Dia mendirikan sanggar seni yang menjadi tempat belajar bagi generasi muda yang ingin menekuni dunia pedalangan. Dia menanamkan nilai disiplin, rasa hormat terhadap guru, dan kecintaan terhadap seni tradisional.
Banyak muridnya kini telah menjadi dalang terkenal di berbagai daerah. Mereka membawa semangat yang sama: menjaga agar seni wayang tidak punah oleh arus modernisasi.
“Ki Anom bukan hanya dalang, tapi guru besar bagi kami. Belajar dari beliau bukan cuma soal teknik, tapi juga soal sikap hidup dan filosofi,” ujar salah satu muridnya.
Simbol Ketekunan dan Dedikasi
Sampai akhir hayatnya, Ki Anom Suroto tetap aktif di dunia pedalangan. Dia kerap hadir di berbagai acara budaya dan menjadi narasumber dalam seminar tentang pelestarian seni tradisional.
Setiap kali naik panggung, penonton selalu menaruh rasa hormat. Bukan hanya pada pertunjukannya, tapi juga pada perjalanan hidupnya yang penuh pengabdian.
Dalam setiap sabetan wayang, suluk yang merdu, dan petuah bijak yang dilantunkan, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang dalam: kesabaran, keteguhan, dan cinta terhadap budaya.
Lebih dari sekadar dalang, Ki Anom Suroto adalah simbol ketulusan dan dedikasi terhadap kesenian Jawa.
Sosoknya membuktikan bahwa seni tradisi tidak akan pernah mati, selama ada orang-orang yang mencintai dan menjaganya dengan sepenuh hati.
Dengan suara emas yang abadi dan karya yang melampaui zaman, nama Ki Anom Suroto akan selalu dikenang sebagai penjaga ruh kebudayaan Jawa yang terus hidup dari generasi ke generasi.***