Banyak dalang muda mengakui bahwa mereka belajar dari gaya cengkok dan suluk khas Ki Anom.
“Pak Anom itu panutan semua dalang. Dunia mengakui beliau sebagai maestro dengan suara emas yang menjadi kecintaan anak muda di masanya,” kata Ki Ngabehi Jokarno.
Menurut Jokarno, kekuatan Ki Anom tidak hanya pada teknik mendalang, tetapi juga pada kemampuan dramatika yang kuat.
“Semua pendengar bisa terhanyut oleh catur (suara) beliau. Gaya penyampaiannya spektakuler, tidak monoton, dan penuh penghayatan,” tambahnya.
Baca Juga: Siapa Purbaya Yudhi Sadewa? Ini Profil Biodata Lengkap Menteri Keuangan Baru Pengganti Sri Mulyani
Menjembatani Tradisi dan Modernitas
Kepiawaian Ki Anom Suroto tidak berhenti pada kemampuan teknik. Ia juga dikenal sebagai dalang yang berhasil mendekatkan wayang kulit kepada masyarakat modern.
Dalam setiap pementasannya, dia juga kerap menyelipkan humor segar, kritik sosial, dan pesan moral yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Cerita klasik seperti Mahabharata dan Ramayana dibawakannya dengan gaya yang lebih dinamis tanpa mengurangi makna filosofisnya.
Dia bahkan sering mengubah alur cerita agar sesuai dengan konteks sosial masyarakat modern, membuat pertunjukannya terasa hidup dan mudah dipahami semua kalangan.
Kehadirannya di berbagai panggung, baik di dalam maupun luar negeri, memperkuat citra wayang kulit sebagai seni yang tidak hanya sakral, tapi juga universal.
Melalui sabetan tangannya, wayang menjadi sarana diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.
Baca Juga: Profil dan Perjalanan Hidup Cokorda Istri Niti Yadnya: Sosok Bangsawan Bali yang Menginspirasi
Pelestari Wayang
Selain dikenal sebagai dalang legendaris, Ki Anom Suroto juga memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Jawa.