Tahun 2018 dia juga mendalang dan memberikan workshop di Rusia, menjadi bukti bahwa wayang kulit tetap relevan dan dikagumi lintas budaya.
Kiprah globalnya membuatnya dijuluki sebagai Duta Budaya Indonesia. Suara khas yang lembut dan berwibawa, serta kepiawaiannya dalam memainkan wayang memukai penonton pertunjukan wayang kulit.
Maestro yang Rendah Hati
Sepanjang hidupnya, Ki Anom tak hanya berkarya untuk dirinya sendiri. Dia juga aktif membina dalang-dalang muda dari berbagai daerah.
Melalui forum Rebo Legen yang digelar di rumahnya setiap Rabu Legi, Anom Suroto membuka ruang bagi para dalang untuk berlatih, berdiskusi, dan menerima kritik konstruktif.
Selain membina generasi penerus, Ki Anom juga aktif di organisasi Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), dan pernah menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat Pepadi periode 1996–2001.
Kiprahnya tak hanya di panggung, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan dan pengembangan kesenian tradisional Indonesia.
Penghargaan dan Gelar Kehormatan
Atas kontribusinya, Ki Anom Suroto menerima banyak penghargaan bergengsi. Pada 1993, dalam Pekan Wayang Indonesia VI, ia terpilih sebagai Dalang Kesayangan Nasional.
Dua tahun kemudian, Presiden Soeharto menganugerahkan Satyalencana Kebudayaan RI (1995) atas jasanya melestarikan budaya bangsa.
Dari Keraton Surakarta, dia juga menerima gelar Lebdocarito, dan pada 1997 diangkat menjadi Bupati Sepuh dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.
Gelar tersebut menjadi simbol pengakuan atas perannya sebagai penjaga nilai-nilai luhur kebudayaan Jawa.
Baca Juga: Siapa Purbaya Yudhi Sadewa? Ini Profil Biodata Lengkap Menteri Keuangan Baru Pengganti Sri Mulyani
Warisan yang Tak Akan Padam